SELAMAT DATANG DI BLOG ABDUL HALIM SOLKAN

Semoga segala yang penulis atau blogger tampilkan dapat bermanfaat!

Thursday, 13 June 2013

Mengingat Kembali Sosiologi

Pengertian Sosiologi
Secara etimologi, sosiologi berasal dari bahasa latin yaitu socious yang berarti kawan atau teman dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Beberapa ahli juga mengungkapkan pendapat mereka tentang definisi sosiologi, diantaranya J. A.A. van doorn dan C.J Lammers berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. Sebagai ilmu pengetahuan yang murni(pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai(applied science), sosiologi bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan sedalam-dalamnya tentang masyarakat, bukan untuk mempergunakan pengetahuan tersebut kepada masyarakat.
Seperti contoh, ahli sosiologi mengemukakan pendapat-pendapatnya yang berguna bagi petugas administrasi, pembuat Undang-undang, para diplomat, guru-guru, satpol PP dan sebagainya, akan tetapi mereka tidak menentukan apa yang harus dikerjakan petugas-petugas tersebut. atau dengan bahasa lain, sosiologi bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta dalam masyarakat serta mempergunakanya untuk menyelesaikan persoalan-persolan masyarakat.
Objek Sosiologi
Seperti halnya ilmu sosial lainya, Objek kajian sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat merupakan sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama dan memiliki budaya (mempunyai struktur, tatanan, aturan dan hukum). Berikut merupakan kriteria sesuatu dikatakan sebagai masyarakat, yaitu manusia yang hidup bersama (minimal 2 orang), bercampur dalam waktu yang sama, sadar merupakan satu kesatuan dan merupakan suatu sistem hidup bersama. Nantinya di masyarakat pula akan ditemukan hal-hal yang menjadi masalah pokok dari pembicaraan tentang sosiologi, diantaranya pebahasan tentang gejala-gejala sosial, fakta sosial, tindakan sosial dan khayalan sosial. Misalnya dalam perumusan sebuah teori dari pemasalahan pendidikan.
Metode-metode dalam Sosiologi
            Cara kerja atau metode (method) sosiologi pada dasrnya mempunyai dua enis cara kerja, diantarnya metode kualitatif yang mengutamakan bahan yang sukar diukur dengan angka-angka atau hal-hal yang bersifat  eksak dan metode kuantitatif yang bersifat sebaliknya.
Metode kualitatif terdiri dari metode historis dan metode komparatif. Metote historis merupakan telaah atau analisis atas kejadian-kejadian silam guna merumuskan prinsip-prinsip umum, sedangkan metode komparatif memeningkan prbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan serta sebab-sebabnya.
            Ada pula metode lain yang dipakai dalam penelitian sosiologi, yaitu metode studi kasus(case study) yang bertujuan untuk mempelajari sedalam-dalamya salah satu gejala nyata dalam kehidupan masyarakat. Alat- alat yang dipakai dalam metode studi kasus ini adalah misalnya wawancara(interview), petanyaan-pertanyaan(questioner), daftar pertanyaan-pertnyaan(schedule) dan participant observer technique.
            Sedangkan dalam metode kuantitatif, kita mengenal teknik yang dinamakan Sociometry yang berusaha meneliti masyrakat secara kuantitatif. Sociometry merupakan himpunan konsep-konsep dan metode-metode yang bertujuan untuk menggambarkan dan meneliti hubungan-hubungan antar manusia dalam masyarakat secara kuantitatif.
            Metode lainya yaitu detode deduktif dan induktif. Metode deduktif yaitu memulai dengan mempelajari kaidah-kaidah yang bersifat umum untuk kemudian dipelajari dalam hal yang khusus, sedangkan metode induktif mempelajari suatu gejala yang khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam lapangan yang lebih luas
Sejarah Teori Sosiologi
Perhatian Masyarakat sebelum Comte,
1.      Plato : Menelaah masyarakat secara sistematis dengan merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup bidang kehidupan sosial dan ekonomi.
2.      Aristoteles : melakukan analisis tentang lembaga-lembaga politik dalam masyarakat.
3.      Ibn Khaldun : mengemukakan beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian sosial dan peristiwa dalam sejarah
4.      Zaman renaissance : muncul nama-nama Thomas more dan Campanella mengenai masyarakat ideal. N. Machiavelly : mengemukakan bagaimana cara mempertahankan kekuasaan
Sosiologi Auguste Comte
      Pada abad ke 19, August Comte(1798-1857) sudah memulai kajian-kajianya tentang sosiologi. Comte adalah yang memakai istilah “sosiologi” dan membedakan ruang lingkup dan isi sosiologi dengan ilmu sosial lainya, oleh karena itu Comte dikenal sebagai the father of sociology. Dia menyusun suatu sistematika dari filsafat sejarah dalam kerangka tahap-tahap pemikiran yang berbeda. Menurutnya, tahapan perkmbangan intelektual manusia dibagi menjadi tiga, yang pertama yaitu suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala di sekelilingnya secara teologis yaitu dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan oleh dewa-dewa atau Tuhan yang maha kuasa atau di sebut sebagai tahap sosiologis atau fiktif.
      Tahap kedua merupakan tahap metafisik. Pada tahap ini manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang akhirnya akan dapat diungkapkan. Selanjutnya adalah tahapan Rasional, diaman manusia sudah mulai berfikir berdasarkan akal dan mampu menemukan jawaban dari persoalan-persoalan yang ada(adabya kesadaran kritis). Menurut Comte, sosiologi merupakan studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial. Sosiologi yang merupakan ilmu pengetahuan paling kompleks dan dapat berkembang dengan pesat.
Mazhab – mazhab Sosiologi
1.      Mazhab Geografi dan lingkungan
Tokohnya adalah Edward Bucked dan Le play, inti dari pentingnya mazhab ini adalah baha ajaran-ajaran atau teori-teori menghubungkan factor keadaan alam dengan factor-faktor strukur serta organisasi sosial.
2.      Mazhab organis dan revolusioner
Tokohnya adalah Herbert Spencer dan Ferdinan Tonnies. Pengaruh spencer muncul melalui analoginya antara masyarakat dengan suatu organisme. Dia menjelaskan bahwa suatu organism akan mencapai suatu kesempurnaan jika memiliki beberapa criteria, yaitu kompleksitas, diferensiasi dan integrasi yang lebih sempurna pula.
3.      Mazhab Formal
Tokoh yang paling berpengaruh adalah George Simmel (1858-1918). Menurutnya, elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan-hubungan antar elemenya.
4.      Mazhab Psikologi
Gabriel Tarde dari prancis mengungkapkan gagasanya bahwa dimulai dengan suatu dugaan atau pandangan awal bahwa gejala sosial mempunyai sifat sosiologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, dimana jia tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan.
5.      Mazhab Ekonomi
Menurut Karl marx Selama masyrakat masih terbagi atas kelas-kelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan.
6.      Mazhab hukum

Salah satu tokohnya adalah E. Durkheim, yang menjelaskan baha hukum adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringanya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya suatu tindakan, yakni sanksi yang represif dan restitutif.

Suasana Ramadhan Bagi Industri Pertelevisian

Oleh : Abdul Halim

Televisi, berdasarkan UU Pers no.40, 1999 dan UU Penyiaran no.32, 2002 selain berkedudukan sebagai lembaga masyarakat, melekat pula fungsi sebagai lembaga ekonomi. Fungsi ekonomi inilah (terutama oleh Televisi Swasta) yang dimanfaatkan secara maksimal, terutama di era kebebasan saat ini. Sepintas tak ada yang salah dari apa yang rata-rata mereka lakukan. Dalih adalah memberikan pelayanan maksimal kepada pemirsa. Mereka selalu memanfatakan setiap momentum untuk (seolah) memberikan pelayanan maksimal kepada pemirsa, meski dibalik itu motif ekonomilah yang sebenarnya ada dibalik produksi siaran yang mereka sajikan.
Tak luput pula setiap tahun moment bulan puasa, ketika mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam sedang melaksanakan ibadah, mereka maksimalkan berbagai siaran atau sajian yang bernuansa ramadhan. Motto ; Berikan pemirsa apa yang mereka inginkan. Tampaknya para pengelola televisi swasta hanya mengambil sepotong apa yang dikatakan Reith (dalam Media Culture,1992) memberi publik apa yang pengelola pikir mereka butuhkan dengan mengabaikan bahwa sesungguhnya apa yang dimaksud Reith sebagai apa yang sesungguhnya mereka butuhkan, sehingga ada nuansa aspek kemanfaatan bagi pemirsa.
Kedatangan bulan Ramadhan selalu memberi kita pemandangan tersendiri di televisi. Sinetron-sinetron yang biasanya berlimpah kata-kata makian yang kasar, bahasa tubuh yang menyebalkan, dan dialog yang melambangkan kecintaan yang besar terhadap materi, kini berubah wujud. Para tokoh yang mendadak berkerudung dan berpeci, dan mulai menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, alias mung mampir ngombe. Dalam beberapa adegan terlihat lucu karena mereka menggunakan kerudung atau peci bahkan ketika mereka hanya leyeh-leyeh di dalam rumah. Rasanya kita sendiri juga tidak begitu-begitu amat dalam “ merayakan “ bulan suci. Bukankah semangat tidak harus diwujudkan hanya dengan atribut fisik?
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa praktikan sinetron itu semata-mata memanfaatkan momentum yang ada. Karena bulan puasa identik dengan kesabaran, maka jalan ceritapun dibelokkan sedemikian rupa sehingga pas dengan semangat ramadhan. Hingga terkadang dialognya bernafas islami dan diselingi lantunan ayat-ayat suci alqur’an. Hebat betul. Semuanya atas nama Ramadhan. Tampaknya kita sebagai penonton sekaligus umat beragama, harus merelakan bulan ini dieksploitasi habis-habisan oleh para praktikan sinetron. Suka tidak suka,mau tidak mau,pasti terjadi. Kita terpaksa bulan Ramadhan hanya sebagai salah satu momentum dalam kehidupan.
Masalahnya, bisakah kita memandang sinetron yang mendadak religius itu sebagai medium dakwah? Rasanya kok susah. Untuk bisa dikatakan sebagai medium dakwah, sebuah sinema elektronik harus memiliki konsistensi dalam menawarkan wacana-wacana keimanan, jika perlu dengan cara-cara yang kreatif dan berbeda. Tidak mendadak dan musiman seperti yang terjadi sekarang. Sebagai praktikan pertelevisian diharapkan mampu menjadikan sinetronnya benar-benar sebagai medium dakwah, dengan cara konsistensinya dan mempertontonkan suatu pembicaran yang syarat filsafat,dengan mengemasnya melalui tahap anlogi dengan hal-hal yang remeh dalam kehidupan sehari-hari.

Jelas bahwa menjadikan sinetron sebagai medium dakwah tidak bisa dilakukan dengan hanya menyelipkan potongan-potongan ayat kitab suci yang seringkali terasa numpang lewat tanpa konteks. Sebab jika hanya itu yang dilakukan, apa boleh buat, harus dikatakan bahwa sinetron para praktikan pertelevisian kita hanya memanfaatkan momentum belaka. Kita berharap para parktikan televisi sadar agar lebih mengedepankan aspek kemanfatan bagi pemirsa, dan tidak hanya menginginkan keuntungan semata. Kedepan, kita tentu berharap para pengelola televisi agar makin mampu memaksimalkan situasi simbiosis mutual bernuansa Ramdhan secara maksimal. Melalui cara itulah para pengelola akan berkontribusi konkret dan amanah, sekaligus memperoleh keuntungan financial untuk mengembangkan stasiun televisi yang dikelola.  

Nipotisme Kalangan Birokrat

 Oleh : Abdul Halim
Wacana ini akan menyoroti tentang fenomena pemilihan seorang pemimpin di sekitar kita baik itu Desa, Kecamatan, Kabupaten, hingga aparatur pemerintah yang sekelas DPR, MPR, dan menteri, serta civitas akademika dunia kampus terutama untuk BEM baik fakultas atau universitas dan khusus untuk ketua mahasiswa angkatan di suatu fakultas.
Kita semua sebagai bangsa indonesi mengharapkan seorang pemimpin yang benar –benar mampu untuk memberikan kontribusi yang baik bagi ikita semua bangsa Indonesia. Namun itu semua pupus ketika ada sebuah pemilihan kepemimpinan dalam birokrat yang dibumbui dengan apa yang namanya, nipotisme.
Nipotisme di negeri kita memang tidak dapat di pungkiri dan ditepis oleh siapapun, semua itu telah ada sejak dahulu. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh tuhan dengan segala kelebihannya dibanding makhluk lain, baik dari fisik maupun spirit, jasmani maupun rohani. Manusi diberi petunjuk oleh tuhan berupa petunjuk indra, intuisi, akal, dan agama (Amin Syukur : 1991). Petunujuk-petunjuk itu harus kita manfatkan dan kita gunakan semaksimal mungkin demi kemaslahatan manusia. Sebagaimana dalam pemilihan seorang pemimpin bagi diri kita harus berdasarkan atas segala petunjuk yang telah diberikan Tuhan bagi kita. Dan kita lebih mengedepankan atas kebenaran  seperti kebenaran indrawi (sensible truth), kebenaran ilmu (intelligible truth), dan kebenaran filsafat (philosophical truth) kebenaran yang diperoleh dari pemikiran atas apa yang ada “ (being) “ dan “mungkin ada” secara mendasar (seakar-akarnya), obyektif dan universal.
Kaitannya yang telah saya jelaskan tadi, maka kita harus memilih seorang pemimpin berdasarkan kapabilitas dan intelektual mereka masing-masing. Bukan malah memilih mereka karena mungkin saudara, kolega, partner, dan sebagainya. Sebagaimana pemiliha kepala desa, jika yang mencalonkan diri adalah saudara atau mungkin teman kita, maka akan dipilih tanpa melihat sejauh mana kemampuan mereka untuk membawa desanya lebih maju. Karena dipilih atas dasar Nipotisme, maka dalam memimpin juga nipotisme yaitu lebih mengutamakan saudara-saudaranya untuk menjadi orang penting di desa tanpa melihat orang lain, padahal mereka lebih mampu dan berpotensi. Karena dirasa lebih menguntungkan dalam melaksanakan keotoriter kepemimpinannya. Dan sikap itu naik sampai pada jabatan Bupati.
Sebagaimana pemilihan jabatan menteri sebagai pembantu presiden, banyak dibumbui unsur nipotisme. Kita lihat saja usulan jabatan-jabatan menteri yang nantinya membantu tugas presiden sebagai kepala negara Republik Indonesia periode 2009-2014, banyak dari mereka adalah kolega-kolega dari SBY. Dan pada dasarnya mereka belum tentu memenuhi dan mumpuni untuk menduduki jabatan menteri itu.


Individu, Keluarga, dan Masyarakat

 Oleh : Abdul Halim

       I.      PENDAHULUAN
Kata “individu” berasal dari kata latin, yaitun individium, berarti “yang taka terbagi”. Jadi, merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai nuntuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Dalam ilmu sosial paham individu menyangkut tabiatnya dengan kehidupan jiwanya yang majemuk, memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia. Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai suatu yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Dengan demikian sering digunakan sebutan “orang-seorang” dan “manusia perseorangan”. [1] Keluarga itu berarti ibu, bapak, dengan anak-anaknya atau seisi rumah, bisa juga disebut batih, yaitu orang seisi rumah yang menjadi tanggungan, dan dapat pula berarti kaum, yaitu sanak saudara serta kaum kerabat.[2] Definisi lain mengemukakan bahwa keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang direkat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi serta tinggal bersama.[3] Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut society, asal katanya Socius yang berarti kawan. Adapun kata “masyarakat” berasal dari bahasa arab, yaitu syirk artinya bergaul.  Seorang tokoh sosiologi modern, Talcott Parson, merumuskan kriteria masyarakat. Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang melebihi masa hidup individual normal dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadapa generasi berikutnya.[4] Definisi lain menyebutkan bahwa masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu yang terikat oleh suatu adat, ritus, atau hukum dan hidup bersama. Al-Qur’an menyebut masyarakat dengan beberapa kata, yaitu qawm, ummah, syu’ub, dan qabail. Salah satu hukum kemasyarakatan yang cukup populer ialah Q.S. Ar-Ra’d [13]:11, yang berbunyi
žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/  
sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadan) satu kaum (masyarakat) sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka” [5]
Untuk arti yang lebih khusus masyarkat disebut pula kesatuan sosial, mempunyai ikatan kasih yang erat.
Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial selalu dihadapkan kepada masalah sosial yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Masalah sosial ini timbul sebagai akibat dari hubungan dengan sesama manusia lainnya dan akibat tingkah lakunya. Masalah sosial ini tidaklah sama antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya karena adanya perbedaan dalam tingkat perkembangan kebudayaan, sifat kependudukannya, dan keadaan lingkungannya. [6] Meskipun Individu merupakan satuan kecil yang terbatas, ia juga punya pengaruh terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat. Ketika kenakalan individu mulai muncul maka semua elemen yang berda dalam kehidupan bermasyarakat punya andil bagian baik mulai dari penyebab hingga pananggulangan dan penyelesaiannya.

    II.      RUMUSAN MASALAH
Dari pendahuluan diatas maka dapat dirumuskan permasalan yang perlu kita bahas agar tidak terjadi misunderstanding (kesalah pahaman) diantaranya:
1.            Bagaimanakah peranan individu dalam kehidupan keluarga dan masyarakat ?
2.            Apa penyebab yang mempengaruhi munculnya kenakalan Individu?
3.            Bagaimanakan peran serta keluarga dan masyarakat untuk meminimalisir kenakalan individu?
 III.      PEMBAHASAN
Masalah sosial yang muncul sekarang ini diakibatkan karena adanya penurunan kesadaran untuk menjalankan ajaran agama dengan sepenuhnya, hal ini disebabkan kurangnya perhatian dari keluarga dan masyarakat sebagai kontrol sosial sebagaimana adanya kenakalan individu yang marak sekarang ini. Meskipun individu dari artinya adalah sebuah kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan. Dalam bertingkah laku menurut pola pribadi suatu individu terdapat tiga macam kemungkinan:

1. Menyimpang dari norma kolektif
2. Kehilangan individualitas
3. Mempengaruhi masyarakat

Maka dalam hal ini kita perlu merevitalisasi kembali peran individu dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat. Adanya aspek organis-jasmaniah, psikis-rohaniah, dan sosial kebersamaan yang melekat pada individu, mengakibatkan bahwa kodratnya adalah untuk hidup bersaa manusia lain. Selain kepentingan individual, diperlukan suatu tata hidup yang mengamankan kepentingan komunal demi kesejahteraan brsama. Perangkat tatanan kehidupan bersama menurut pola tertentu kemudian berkembang menjadi apa yang disebut “pranata sosial” atau abstraksi yang lebih tinggi lagi, dinamakan “kelembagaan” atau “institusi”. Individu mempunyai “karakter”, maka satuan lingkungan sosial mempunyai “karasteristik” yang setiap kali berbeda fungsinya , struktur, peranan, dan proses-proses yang berlangsung di dalam dirinya. Posisi, peranan, dan tingkah lakunya diharapkan sesuai dengan tuntutan setiap satuan lingkungan sosial dalam situasi tertentu. Relasinya bersifat kompleks dan menjadi sasaran berbagai disiplin ilmu, tetapi diperoleh gambaran mengenai relasi individu dengan lingkungan sosialnya sebagai berikut : [7]
a.       Relasi Individu dengan Dirinya
Merupakan masalah khas psikologi. Karena individu dihadapkan dengan watak-wataknya yaitu Ego, Id, dan Superego. Id adalah wadah dalam jiwa seseorang, berisi dorongan primitif dengan sifat temporer yang selalu menghendaki agar segera dipenuhi atau dilaksanakan demi kepuasan. Ego bertugas melaksanakan dorongan-dorongan Id, tidak bertentangan dengan kenyataan dan tuntutan dari Superego. Ego dalam tugasnya  berprinsip pada kenyataan relative principle. Superego berisi kata hati atau conscience, berhubungan dengan lingkungan sosial, dan punya nilai-nilai moral sehingga merupakan kontrol terhadap dorongan yang datang dari Id.[8]
b.      Relasi Individu dengan Keluarga
Individu punya relasi mutlak dengan kelurga. Ia dilahirkan dari keluarga, tumbuh dan berkembang untuk kemudian membentuk sendiri keluarga batinnya. Peranan-peranan dari setiap anggota keluarga merupak resultan dari relasi biologis, psikologis, dan sosial.[9]
c.       Relasi Individu dengan Lembaga
Lembaga diartikan  sebagai norma-norma yang berintegrasi disekitar suatu fungsi masyarakat yang penting. Dalam hal ini, individu berperan sebagai pelaku yang berperan didalamnya melalui sosialisasi. [10]
d.      Relasi Individu dengan Komunitas
Dalam hal ini ia juga berada didalamnya karena ia juga hidup didalam komunitas itu sendiri.[11]
e.       Relasi Individu dengan Masyarakat
Masyarakat merupakan satuan lingkungan yang bersifat makro. Sifat makro diperoleh dari kenyataan, bahwa masyarakat pada hakikatnya terdiri dari sekian banyak komunitas yang berbeda, sekaligus mencakup berbagai macam keluarga, lembaga, dan individu-individu.[12]
f.       Relasi Individu dengan Nasion
Nasion dalah suatu jiwa, suatu asas spiritual, suatu solidaritas yang terbentuk oleh perasaan yang timbul sebagai akibat pengorbanan- pengorbanan yang telah dibuat dan yang dalam masa depan bersedia dibuat lagi.
Individu dalam perkembangannya sering muncul penyimpangan dan kenakalan, dalam pengamatan penyebab mereka bisa tumbuh seperti itu (Kenakalan) adalah sebagai berikut :
a.       Dasar-dasar agama yang kurang
b.      Pengaruh kawan sepermainan
c.       Pengaruh perkembangan iptek yang negatif
d.      Pendidikan
e.       Pemanfaatan waktu luang
f.       Uang saku
g.      Pengaturan seksual
h.      Dan lain-lain
Dari penyebab-penyebab diatas, untuk meminimalisir dan mengtasinya peran serta keluarga dan masyarakat sangat penting. Masyarkat dan keluarga hendaknya ikut bertanggung jawab penuh atas perkembangan para individunya, meskipun kenyatannya itu semua tergantung dari individu masing-masing. [13]

 IV.      KESIMPULAN DAN SOLUSI
Dari pembahsan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Individu punya peran yang sangat penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dalam perkembangannya, individu memunculkan sikap-sikap yang menyimpang dari norma-norma yang dianut dalam masyarakatnya. Ketika muncul kenakalan nindividu sebagaimana yang telah dijelaskan, maka semua elemen kehidupan sosial terutama keluarga dan masyarakat dapat mengoptimalkan perannya sebagai bentuk tanggung jawab atas perkembangan anggotanya (Individu).
Solusi yang tepat atas permasalahan ini adalah meningkatkan kjemabli pengawasan perkembangan individu dan perlu adanya pendidikan yang lebih atas ini. Karena, jika dalam perkembangannya selalu diawasi dalam hal ini tidak mempersempit geraknya yaitu memberikan pengarahan yang bersifat familiar yang nantinya mampu diterima oleh individu tersebut. Kemudian dari penyebab diatas, maka dari segala elemen kehidupan sosial perlu adanya peningkatan dibidang pendidikan, pendidikan agama, pendidikan seks, dan pendidikan lain yang diharapkan mampu meminimalisir kenbakalan-kenakalan tersebut.

    V.      PENUTUP
Demikianlah, yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat. Tak ada gading yang tak retak, mungkin dalam penyusunan masih banyak kesalahan, kami mohon ma’af, dan bagi pembaca yang hendak memberikan kritik yang konstruktif kami terima dengan lapang dada.

 VI.      DAFTAR PUSTAKA

Soelaeman, M. Munandar, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Sosial, Bandung : Refika Aditama, 2001, Cet. 8.

Wahyu, Ramdani, ISD (Ilmu Sosial Dasar), Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Wikimu “Penyebab Kenakalan Remaja dan Cara Mengatasinya” http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12915

Anonimous, Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka. 1995.

Arifin, Tajul, Pengantar Studi Sosiologi. Bandung: Arie and Brother. 1993.Cet. 3




[1] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Adimata,  2004), hlm. 113

[2] Anonimous, Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Deoartemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka. 1995) hlm.471

[3] Tajul Arifin, Pengantar Studi Sosiologi. 9Bandung: Arie and Brother. 1993).Cet. 3 hlm. 59.

[4] Dikutip dari Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI. 1996) edidi kedua, hlm.56.
[5] Ramdani Wahyu, ISD Ilmu Sosial Dasar (Bandung: Pustaka Setia. 2007) Cet 1,hlm 74.

[6] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Adimata,  2004), hlm. 6
[7] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Aditama,  2004), hlm.124
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.,hal. 125
[11] Ibid.,hal.126
[12] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Adimata,  2004), hlm. 127
[13] Wikimu “Penyebab Kenakalan Remaja dan Cara Mengatasinya” http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12915

Tuesday, 7 May 2013

PENDEKATAN TEKS STUDY ISLAM


PENDEKATAN TEKS STUDY ISLAM
MAKALAH 


Di susun guna memenuhi tugas
Mata kuliah : Pengantar Study Islam (PSI) 
Dosen pengampu : M.Rikza Chamami,MSI 


Disusun oleh : 
1) Abdul Halim (093811011) 
2) Kurnia Fatmawati (123911057) 
3) Lailatul Isnaini (123911058) 
4) Nailur Rahmah (123911073) 
5) Fina Amrina Rosyada (123911123) 






FAKULTAS TARBIYAH 
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO (IAIN WALISONGO) 
SEMARANG 
TAHUN 2013 


PENDEKATAN TEKS STUDY ISLAM 




I. PENDAHULUAN 


Studi Islam sebenarnya merupakan kajian keilmuan yang telah lama. Ia ada bersama dengan adanya agama Islam. Studi Islam dalam pengertian ini adalah studi Islam secara praktek. Tetapi studi Islam sebagai Ilmu yang tersusun secara sistematis, ilmiyah, dan dibangun sebagai sebuah ilmu yang mandiri baru muncul dalam beberapa dekade belakangan. 
Gelombang perhatian, terhadap agama belakangan ini meningkat tajam. Agama yang dalam kerangka positivisme disertakan dengan mitos dan karenanya diramalkan akan tenggelam dilibas kekuatan ideology dan ilmu pengetahuan, ini kian menunjukkan nyalanya. Perhtian terhadap agama bukan saja berwsifat teologis, yakni dengan meningginya minat menjalani kehidupan yang diyakini berlandaskan ajaran suatu agama yang kini terkenal dengan istilah kebangkitan Agama-agama. 
Semangat ini tidak bersifat local tetapi global, membentang dari timur hingga kebarat. Kenyataan ini pada gilirannya mendorong minat ilmiyah terhadap agama. Pendekatan terhadap agama tidak lagi sebatas teologis, setudi perhubungan agama, atau sejarah agama-agama, tetapi telah meluas ke disiplin ilmu-ilmu humaniora lain. 
Secara lebih terperinci, dalam dalam mempelajari suatau agama, ada lima bentuk fenomena agamma sebagai bentuk kebudayaan yang perlu untuk diperhatikan. Lima hal tersebut adalah : 1. Naskah-naskah (scripture), teks, atau sumber ajaran, dan simbol-simbol agama. 2. Sikap, perilkau, dan penghayatan para penganut agama. 3. Ritus-ritus, lembaga-lembaga, dan ibadat-ibadat agama. 4. Alat-alat atau saran peribadatan. 5. Lembaga atau organisasi keagamaan. 
Salah satu fenomena diatas adalah membahas terkait naskah, atau teks, sebagai sumber ajaran Islam, dewasa ini lajian mengenai hal tersebut, mulai menjadi sudut pandang tersendiri. Ada berbagai pendekatan yang digunakan adalam memahami dan menafsirkan teks studi Islam. 
II. RUMUSAN MASALAH 
Sebagaimana yang telah kami paparkan dalam pendahuluan diatas, maka kami dari penulis akan mencoba memaparkan, terkait berbagai pendekatan dalam memahami atau menafsirkan teks studi Islam, karena hal ini merupakan hal yang hakiki untuk merumuskan langkah selanjutnya. Rumusan masalah yang nantinya akan kami bahas yaitu : 
A. Bagaimanakah teks studi Islam menurut pendekatan Normatif? 
B. Bagaimanakah teks studi Islam menurut pendekatan Semantik? 
C. Bagaimanakah teks studi Islam menurut pendekatan Filologi? 
D. Bagaimanakah teks studi Islam menurut pendekatan Hermeneutika? 
E. Bagaimanakah teks studi Islam menurut pendekatan Wacana? 
III. PEMBAHASAN 
A. Teks Studi Islam Menurut Pendekatan Normatif 
Kata Normatif berasal dari bahasa inggris norm yang berarti norma ajaran, acuan, ketentuan tentang masalah yang baik dan buruk yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Kata norma selanjutnya masuk ke dalam kosakata bahasa indonesia dengan arti antara lain ukran untuk menentukan sesuatu atau ugeran[1]. 
Melihat isi yang tercakup dalam pengertian norma sebagaimana tersebut di atas, maka norma erat hubungannya dengan akhlak, yaitu serangkaian perbuatan yang dinilai baik dan buruk oleh tuhan yang kemudian mempengaruhi tingkah laku manusia. 
Selanjutnya, karena akhlak merupakan inti atau jiwa dari agama bahkan inti ajaran Al-Qur’an, maka norma sering di artikan pula agama. Karena agama tersebut berasal dari Allah, dan sesuatu dari Allah pasti benar adanya, maka norma tersebut juga di yakini pasti benar adanya, tidak boleh dilanggar, dan wajib dilaksanakan. 
Uraian tentang ruang lingkup atau isi akhlak yang berasal dari agama telah dibcarakan par ulama. Mushafa al-Adawy, dalam kitabnya fikih akhlak misalnya membahas isi akhlak yang berkaitan dengan pengawasan Allah dan berbuat menggapai ridho-Nya, menyebarkan kedamaian, memberikan hadiah, memaafkan orang, keadilan, kemuliaan, membela diri, serta tidak mengharapkan milik orang lain. Syaikh Abu Bakar al-Jazair, dalam bukunya mengenal Etika & Akhlak Islam, menguraikan tentang etika dalam niat, sikap terhadap Allah, sikap terhadap Al-Qur’an, terhadap Rosulullah SAW, terhadap diri sendiri, terhadap orang tua, dalam persahabatan, dalam duduk dan ketika dalam pertemuan, ketika makan, sebagai tuan rumah, dalam perjalanan, berpakaian, dan membersihkan[2]. 
Pendekatan agama secara normatif ini, yaitu suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajaranya yang pokok dan asli dari tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. 
1. Ajaran Nomatif Perenialis dalam Pendidikan Islam 
Pada uraian di atas telah dinyatakan, bahwa ajaran yang bersifat normatif yang bersumber dari ajaran agama-agama di dunia termasuk agama Islam, merupakan ajaran yang menyelamatkan manusia dari keterpurukan hidup dan kesesatan sebagaimana yang dialami oleh masyarakat modern saat ini. Mereka memerlukan pencerahan kembali melalui ajaran normatif perenealis yang terdapat dalam agama. 
Pendidikan Islam, sebagai bagian dari pendidikan pada umumnya, diharapkan dapat ikut menyelesaikan permasalahan tersebut di atas dengan cara mengintegrasikan nilai-nilai normatif perenialis tersebut kedalam konsep dan praktik pendidikan Islam. 
Usaha untuk menjadikan Islam, dengan sumber utamanya Al-Qur’an dan Al-Sunnah, sebagai dasar bagi pengembangan Ilmu Pendidikan Islam sesungguhnya sudah dilakukan sejak zaman klasik. Para ulama di zaman klasik secara implisit, yakni secara langsung dan tidak langsung dalam judul khusus pendidikan islam, melainkan menyelinap atau terintegrasi ke dalam pembahasan mereka dalam berbagai disiplin ilmu dan keahlianya. Para mufasir, misalnya, ketika menafsirkan ayat-ayat yang berkenaan dengan ketinggian derajat ulama (QS Al-Fatir, 27), kemuliaan orang yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS Ai-Mujadilah ayat11), perintah membaca dan menulis (QS Al-Alaq, 1-5), pengajaran tuhan kepada Nabi Adam dan kepada para Nabi lainya hingga Nabi Muhammad SAW. (Al-Baqoroh 12-14, Al-Alaq) dan sebagainya secara tidak langsung telah berbicara tentang pendidikan. 
Demikian pula ketika para ahli hadis membahas hadis-hadis yang berkaitan dengan kuwajiban menuntut ilmu mulai dari buaian hingga ke liang lahat, atau hingga kenegeri cina, kuwajiban menuntut ilmu bagi setiap muslimin dan muslimat, kedudukan dan kemuliaan orang yang memiliki ilmu dibandingkan orang yang tidak memiliki ilmu, manfaat ilmu pengetahuan, akhlak yang harus di miliki oleh orang yang mengajar dan menuntut ilmu pengetahuan, dan sebagainya adalah merupakan pembahasan pendidikan Islam dengan menggunakan pendekatan normatif perenialis.[3] 
B. Teks Studi Islam Menurut Pendekatan Semantik 
Semantik berasal dari Bahasa Yunani semantikos,yang berarti memberikan tanda, penting, dari kata sema, tanda adalah cabang linguistik yang mempelajari makna yang terkandung pada suatu bahasa,kode, atau jenis representasi lain. Semantik biasanya dikontraskan dengan dua aspek lain dari ekspresi makna: sintaksis, pembentukan simbol kompleks dari simbol yang lebih sederhana, serta pragmatika, penggunaan praktis simbol oleh agen atau komunitas pada suatu kondisi atau konteks tertentu.
Kemunculan semantik sebagai bagian dari linguistik yang dimunculkan oleh “Braille” di akhir abad 19 – ini masih menjadi perdebatan terhadap munculnya semantik sebagai disiplin ilmu makna – dengan judul tesisnya Essai de Semantique merupakan suatu perkembangan terhadap kebutuhan makna dalam ilmu kebahasaan. Semantik melakukan upaya pemaknaan terhadap simbol-simbol teks yang berakar dari teks itu sendiri. Pembagian pamahaman makna dalam semantik disajikan dengan beragam latar belakang, mulai dari makna dalam perbedaan suara (fonetik), makna dalam perbedaan gramatikal, makna dalam perbedaan leksikal, dan makna dalam perbedaan sosiolinguistik. Sedangkan pada proses berikutnya semantik lebih memahami pada kontekstulitas teks untuk menghasilkan sebuah makna. Dalam semantik, pergulatan dalam analisa makna suatu teks terus berkembang hingga saat ini, baik yang menganalisa dari unsur leksikal, gramatikal, maupaun kontekstual. Masing-masing memiliki daya analisa yang sambung, yang tidak dapat dilepaskan dalam kajian semantik. 
Pendekatan semantik dalam menafsirkan al-Qur’an lebih nampak pada pemaknaan yang mereposisikan teks al-Qur’an pada tekstualitas dan kontekstualitasnya. Selanjutnya semantik sebagai bagian dalam ilmu kebahasaan memberikan daya tambah terhadap dimensi bahasa dan makna yang terkandung dalam al-Qur’an. Toshihiko Izutsu lebih jauh mengglobalkan pemaknaan al-Qur’an dalam dimensi makna dasar dan makna relasional. Analisa ini mempunyai kecenderungan pemaknaan yang sangat luas dari segala dimensi pembentukan ayat-ayat al-Qur’an. Satu sisi semantik memang memiliki daya teori yang mampu mengungkap makna teks yang lebih tanyeng. Ini membuktikan bahwa antara semantik dan al-Qur’an sama-sama memiliki karakteristik penganalisisan. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang membawa segala simbol yang menyertai teksnya, baik secara idiologi, kesejarahan, norma, dan segala segmen kehidupan kemanusiaan yang terkandung dalam al-Qur’an. Sedangkan semantik secara disiplin keilmuan membentangkan analisa teks yang sangat khusus sebagai ilmu bantu bahasa. 
C. Teks Studi Islam Menurut Pendekatan Filologi 
Secara etimologi, filologi berasal dari bahasa Yunani yaitu Philos dan Philein yang berarti cinta dan logos berarti kata. Pada kedua kata itu membentuk arti cinta kata atau senang bertutur. Makna ini kemudian berkembang menjadi senang belajar atau senang kebudayaan. Dalam kamus besar bahasa Indonesia, Filologi berarti ilmu tentang perkembangan ilmu kerohanian suatu bangsa dan kekhususannya atau tentang kebudayaan berdasarkan bahasa dan sastranya. 
Secara terminologis disebut sebagai ilmu yang mempelajari bahasa, budaya dan sejarah suatu bangsa melalui bahan tertulis. Dewasa ini istilah filologi diartikan sebagai ilmu yang menyelidiki masa kuno dari nilai berdasarkan naskah-naskah tertulis, walaupun ahli filologi akhir-akhir ini mulai menyadari bahwa sedikit pengetahuan tentang linguistik umum, sudah bermanfaat bagi usaha mereka. Ilmu filologi tidak sama dengan ilmu linguistik. Jadi ahli bahasa Jawa kuno misalnya atau ahli bahasa Melayu klasik, tak perlu menjadi spesialis linguistik umum. Demi untuk penelitian filologi, sedikit pengetahuan tentang linguistik umum sudah memadai. 
Dari sini filologi dipergunakan pula sebagai sebutan untuk ilmu bahasa sebelum De Saussure dan juga sesudahnya, terutama di Inggris poada abad ke 19, para ahli bahasa sering menyelidiki masa lalu bahasa tertentu dengan tujuan untuk menafsirkan naskah kuno. Dalam menafsirkan naskah kuno tersebut, dilakukan pula penyelidikan berbagai hubungan antara bangsa yang serumpun. 
Pendekatan filologi juga dapat dikatakan sebagai aliran utama dalam kajian keislaman modern. Tidak sedikit sarjana Barat yang melakukan kajian teks dan manuskrip Islam, khususnya dalam bahasa Arab, yang tersebar dan tersimpan si perpustakaan-perpustakaan, baik di kawasan Islam maupun di kawasan Barat sendiri. Berbicara filologi berarti kita berbicara mengenai teks. Pembahasan tentang teks akan terkait dengan pengarangnya. Menyadari teks dan pengarangnya saling bertautan, namun jarang sekali teks dan pengarangnya saling bertautan, namun jarang sekali keduanya hadir bersama-sama dihadapan kita sebagai pembacanya, dalam setiap pemahaman dan penafsiran sebuah teks, faktor subjektifitas pembaca sangat berperan. Oleh karena itu, membaca dalam pandangan Komaruddin Hidayat berarti juga menafsirkan. 
Ketika teks hadir dihadapan kita, teks menjadi berbunyi dan berkomunikasi hanya ketika kita membacanya dan membangun makna berdasarkan sisitem tanda yang ada. Jadi, makna itu berada dalam teks, dalam otak pengarang, dan dalam benak pembacanya. Ketiga variabel itu, yaitu the world of the text, the world of the author, dan the world of the reader, masing-masing merupakan titik pusaran tersendiri meskipun kesemuanya saling mendukung__bisa juga sebaliknya, membelokkan__dalam memahami sebuah teks. Inilah sebagian persoalan dalakajian Islam dengan pendekatan filologis. 
D. Teks Studi Islam Menurut Pendekatan Hermeneutik 
Kata hermeneutik berasal dari kata kerja yunani hermeneuin, yang berarti mengartikan, menafsirkan, menerjemahkan, atau bertindak sebagai penafsir. Munculnya hermeneutik bertujuan untuk menunjukkan ajaran tantang aturan-aturan yang harus di ikuti dalam menafsirkan sebuah teks dari masa lampau, khususnya teks kitab suci dan teks klasik (yunan dan romawi).[4] Hermeneutik di butuhkan karena teks merupakan symbol yang mengandung makna ketika dilihat oleh pembaca, karena pada saat itu pembaca di sudutkan pada dua kondisi yang berbarengan yaitu akrab atau kenal (familiar),dan asing (alien) dengan teks. 
Dalam perkembanganya hingga sekarang ini hermeneutik minimal mempunyai tiga pengertian. 
Pertama,dapat di artikan sebagai peralihan dari sesuatu yang relative abstrak.(ide dan pemikiran) ke dalam bentuk ungkapan –ungkapan yang konkrit. (bahasa). 
Kedua, terdapat usaha mengalihkan dari suatu bahasa asing yang maknanya gelap tidak di ketaui dalam bahasa lain yang bisa di mengertioleh sang pembaca. 
Ketiga, ungkapan dalam bentuk yang belum jelas yang di pindahkan dalam bentuk ungkapan yang lebih jelas.[5] 
Dalam studi hermeneutik, unsur interpretasi merupakan kegiatan yang paling penting. Sebab, interpretasi merupakan landasan bagi metode hermeneutik. satu hal penting yang harus di pahami bahwa cara kerja interpretasi bukanlah di lakukan secara bebas dan semau interprener. kerja interpretasi harus dilakukan denga bertumpu pada kerja evidensi objectif, yakni bertolak dari fakta bahwa sebagian besar perbendaharaan ilmu social terdiri atas konsep tindakan, yang di lakukan degan tujuan sedemikia rupa sehinga seseorang dapat bertanya, apa arah, maksud, dan tujuan, atau kehendak yang di maksudkan oleh seseorang tersebut.[6] 
Selain usur di atas, unsur lain dalam hemeneutik yang di butuhkan pula adalah bagaimana mengungkap makna sebuah teks asing. Teks memang mempunyai sistemmakna tersendiri dan menyuarakan sejumlah makna. Namun teks hanyalah sebuah tulisan yang belum tentu mewakili pikiran si penulis secara akurat. Oleh karna itu, dalam memperoleh makna yang sebenarnya dalam sebuah teks di butuhkan perhatian secara serius untuk mempertimbangkan beberapa variabel yang ada. Ada tiga variable yang berpran saat proses mengartikan, menerjemahkan, dan menafsirkan pada sebuah teks. Teks menjadi komunikatif bila tiga variable ini di perhatikan, yaitu: the world of teks, the world of author, the world of reader.[7] 
Dalam konteks studi islam, hermeneutik biasanya di pahami sebagai sebentuk ‘’ilmu tafsir’’, yang mendalam dan bercorak filosofis. Istilahhermeneutik sendiri dalam sejarah ilmu keilmuan islam, khususnya tafsir al-Qur’an klasik, memang tidak di temukan. Namun demikian, sebagaimana di jelaskan oleh Farid Essack, praktek hermeneutik sebenarnya telah di lakukan oleh umat islam sejak lama, khususnya saat menghadapi al-Qur’an. Buktinya adalah: 
Pertama, problema hermneutik itu senangtiasa dialami dan dikaji meski tidak ditampilkan secra devinitif terbukti dengan adanya kajian asbabul-nuzul dan nasakh-mansukh. 
Kedua, perbedaan atara komentar-komentar yang actual terhadap al Qur’an (tafsir) dengan aturan, teori,atau metode penafsiran yang di bentuk dalam ilmu tafsir. 
Ketiga, tafsir tradisional itu selalu di masukkan dalam katagori-katagori, misalnya tafsir tafsir syi’ah, tafsir mu’tazilah, tafsir hukum maupun tafsir filsafat. Yang kemudian hal ini menunjukan adanya kelompok-kelompok tertentu yang bebeda ideology pula.[8] 
Contoh pendekatan hemeneutik dalam studi islam adalah: analisis operasional hermeneutik dalam tafsir Al-Manar karya Muhammad Abduh dan tafsir Al-Azhar karya Hamka yang di lakukan oleh Fakhrudin Faiz. 
E. Teks Studi Islam Menurut Pendekatan Wacana 
Pendekatan wacana lebih umum disebut analisis wacana. Analisis ini digunakan untuk melacakdan menganalisis historitas lahirnya konsep lengkap dengan latar belakangnya. Teori yang umum digunakan dengan pendekatan ini adalah teori Arkeologi Ilmu Pengetahuanyang ditawarkan Michael Foucault (1926-1884). 
Wacana dalam perspektif ini dimaknai sebagai : Pengucapan-pengucapan yang kompleks dan beraturan, yang mengikuti norma atau standar yang telah pasti dan pada gilirannya mengorganisasikan kenyataan yang tak beraturan. Norma atau standar itu, lebih jauh lagi dianggap ikut menyusun perilaku-perilaku manusia yakni dengan cara memasukkan episode-episode penampilan tertentu dalam kategori-kategori politik, sosial, atau hubungan sosial lainnya (Saphiro dalam Latif, 1996:81). 
Pandangan Saphiro ini menyiratkan bahwa kaidah, norma atau standar (dalam hal ini sintaksis dan semantik) sangat menentukan nilai suatu wacana. Secara lebih sederhana, Crystal dan Cook dalam Nunan (1993) mendefinisikan discourse atau wacana sebagai unit bahasa lebih besar daripada kalimat, sering berupa satuan yang runtut/koheren dan memiliki tujuan dan konteks tertentu, seperti ceramah agama, argumen, lelucon atau cerita. Walaupun tidak setegas Saphiro, Nunan melihat pentingnya unsur-unsur keruntutan dan koherensi sebagai hal yang penting untuk menilai sebuah wacana. Sementara Lubis secara lebih netral (2004:149) mendefinisikan wacana/diskursus sebagai 'kumpulan pernyataan-pernyataan yang ditulis atau diucapkan atau dikomunikasikan dengan menggunakan tanda-tanda'. White (dalam Lubis, 2004:149) mengartikannya sebagai 'dasar untuk memutuskan apa yang akan ditetapkan sebagai suatu fakta dalam masalah-masalah yang dibahas, dan untuk menentukan apa yang sesuai untuk memahami fakta-fakta yang kemudian ditetapkan'. Tidak seperti yang lain White melihat wacana lebih sebagai sebab daripada sebagai akibat atau produk. 
Dengan pemahaman wacana seperti tersebut di atas, Nunan 1993 menyatakan bahwa analisis wacana adalah studi mengenai penggunaan bahasa yang memiliki tujuan untuk menunjukkan dan menginterpretasikan adanya hubungan antara tatanan atau pola-pola dengan tujuan yang diekspresikan melalui unit kebahasaan tersebut. Analisis wacana model Nunan ini dilakukan melalui pembedahan dan pencermatan secara mendetil elemen-elemen linguistik seperti kohesi, elipsis, konjungsi, struktur informasi, thema dsb untuk menunjukkan makna yang tidak tertampak pada permukaan sebuah wacana. Misalnya sebuah percakapan yang secara fisik tidak memiliki cohesive links sama sekali dapat menjadi wacana yang runtut dalam konteks tertentu, sementara suatu kelompok kalimat yang memiliki cohesive links justeru tidak atau belum tentu menjadi wacana yang runtut, hingga dapat disimpulkan bahwa eksistensi cohesive link tidak menjamin keruntutan suatu wacana. Oleh karenanya ibutuhkan pengetahuan mengenai fungsi setiap ujaran yang ada untuk memahami sebuah diskursus. 
Seperti yang dikemukakan Dallmayr (dalam Latif 1996:80) bahasa dan wacana menurut pemahaman fenomenologi justeru diatur dan dihidupkan oleh pengucapan-pengucapan yang bertujuan. Setiap pernyataan adalah tindakan penciptaan makna, yakni tindakan pembentukan diri serta pengungkapan jati diri sang pembicara. Analisis wacana dalam perspektif ini berusaha membongkar dan mengungkap maksud-maksud tersembunyi yang ada di balik ujaran-ujaran yang diproduksi. 
Secara keseluruhan, sebelum perkembangan analisis wacana kritis, fokut kajian, dan rumusan masalah kajian dalam keenam pendekatan analisis wacana tersebut bisa disajikan sebagai berikut: 
Pendekatan Kajian Wacana 
Belakangan, sejalan dengan perkembangan paradigma kritis, juga berkembang analisis wacana kritis. Analisis wacana kritis mengalami perkembangan sangat pesat karena sangat berpotensi untuk digunakan tidak hanya dalam hubungan asimetris antar dua atau lebih pengguna bahasa, tetapi juga untuk menganalisis konflik sosial antara kelompok masyarakat. Berkenaan dengan analisis wacana kritis ini, berikut disajikan kerangka dasarnya. 
1. Kerangka Dasar Analisis Wacana Kritis 
Dua di antara sejumlah ranting aliran analisis wacana kritis yang belakangan sangat dikenal adalah buah karya Norman Fairclough dan Teun van Dijk. Dibanding sejumlah karya lain, buah pikiran van Dijk dinilai lebih jernih dalam merinci struktur, komponen dan unsur-unsur wacana. Karena itu, model analisis wacana kritis ini pula terkesan mendapat tempat tersendiri di kalangan analis wacana kritis.
Kohesi yang merupakan tautan atau hubungan antar bagian dalam wacana sehingga menjadi satu kesatuan, menjadi salah satu kata kunci dalam analisis wacana positivistik. Ini pula yang diperkenalkan lebih awal oleh para pengajar pengantar linguistik kepada para mahasiswanya. 
Berbeda dari pandangan tersebut, dalam kerangka analisis wacana kritis, struktur wacana tersusun atas tiga aras yang membentuk satu kesatuan. Masing-masing adalah struktur makro, superstruktur, dan struktur mikro (macro structure, superstructure, and micro structure). Struktur makro menunjuk pada makna keseluruhan (global meaning) yang dapat dicermati dari tema atau topik yang diangkat oleh suatu wacana. 
Superstruktur menunjuk pada kerangka suatu wacana atau skematika, seperti kelaziman percakapan atau tulisan yang dimulai dari pendahuluan, dilanjutkan dengan isi pokok, diikuti oleh kesimpulan, dan diakhiri dengan penutup. Bagian mana yang didahulukan, serta bagian mana yang dikemudiankan, akan diatur demi kepentingan pembuat wacana. 
Struktur mikro menunjuk pada makna setempat (local meaning) suatu wacana. Ini dapat digali dari aspek semantik, sintaksis, stilistika, dan retorika. Aspek semantik suatu wacana mencakup latar, rincian, maksud, pengandaian, serta nominalisasi. 
Aspek sintaksis suatu wacana berkenaan dengan bagaimana frase dan atau kalimat disusun untuk dikemukakan. Ini mencakup bentuk kalimat, koherensi, serta pemilihan sejumlah kata ganti (pronouns). 
Aspek stilistika suatu wacana berkenaan dengan pilihan kata dan lagak gaya yang digunakan oleh pelaku wacana. Dalam kaitan pemilihan kata ganti yang digunakan dalam suatu kalimat, aspek leksikon ini berkaitan erat dengan aspek sintaksis. 
Aspek retorik suatu wacana menunjuk pada siasat dan cara yang digunakan oleh pelaku wacana untuk memberikan penekanan pada unsur-unsur yang ingin ditonjolkan. Ini mencakup penampilan grafis, bentuk tulisan, metafora, serta ekspresi yang digunakan. 
Dengan menganalisis keseluruhan komponen struktural wacana, dapat diungkap kognisi sosial pembuat wacana. Secara teoretik, pernyataan ini didasarkan pada penalaran bahwa cara memandang terhadap suatu kenyataan akan menentukan corak dan struktur wacana yang dihasilkan. Bila dikehendaki sampai pada ihwal bagaimana wacana tertentu bertali-temali dengan struktur sosial dan pengetahuan yang berkembang dalam masyarakat, maka analisis wacana kritis ini harus dilanjutkan dengan analisis sosial. 
Banyak topik kajian dalam studi keislaman bisa dipilih untuk didekati dengan analisis wacana. Perdebatan tentang penetapan hari raya iedul fitri, misalnya, cukup menarik untuk dianalisis dengan pendekatan analisis wacana kritis. Demikian pun tentang berbagai bentuk discourse marker yang menjadi pengait antara satu ayat dengan ayat lain dalam Al Qur’an akan sangat bermanfaat bila dianalisis dengan teknik analisis wacana konvensional dengan menekankan pada koherensi dan kohesi teks Al Qur’an. Naskah-naskah ceramah agama pun cukup menarik untuk dianalisis sebagai wacana. [9] 
IV. SIMPULAN 
Studi Islam sebenarnya merupakan kajian keilmuan yang telah lama. Ia ada bersama dengan adanya agama Islam. Studi Islam dalam pengertian ini adalah studi Islam secara praktek. Tetapi studi Islam sebagai Ilmu yang tersusun secara sistematis, ilmiyah, dan dibangun sebagai sebuah ilmu yang mandiri baru muncul dalam beberapa dekade belakangan. 
Dewasa ini kajian teks studi Islam mulai berkembang, dan ada pelbagai pendekatan untuk memahami tiap teks studi Islam. Pendekatan tersebut antara lain Normatif, semantik, filologi, hermeneutika dan wacana. Masing-masing pendekatan tersebut punya aspek yang menjadi point of view yang lebih dititik tekankan. Aspek-aspek yang mendasari pendekatan-pendekatan tersebut yaitu : 
a. Pendekatan Normatif : suatu pendekatan yang memandang agama dari segi ajaranya yang pokok dan asli dari tuhan yang di dalamnya belum terdapat penalaran pemikiran manusia. 
b. Pendekatan Semantik : upaya pemaknaan terhadap simbol-simbol teks yang berakar dari teks itu sendiri. Pembagian pamahaman makna dalam semantik disajikan dengan beragam latar belakang, mulai dari makna dalam perbedaan suara (fonetik), makna dalam perbedaan gramatikal, makna dalam perbedaan leksikal, dan makna dalam perbedaan sosiolinguistik. Sedangkan pada proses berikutnya semantik lebih memahami pada kontekstulitas teks untuk menghasilkan sebuah makna. 
c. Pendekatan Filologi : juga dapat dikatakan sebagai aliran utama dalam kajian keislaman modern. Tidak sedikit sarjana Barat yang melakukan kajian teks dan manuskrip Islam, khususnya dalam bahasa Arab, yang tersebar dan tersimpan si perpustakaan-perpustakaan, baik di kawasan Islam maupun di kawasan Barat sendiri. 
d. Pendekatan Hermeneutika : ajaran tantang aturan-aturan yang harus di ikuti dalam menafsirkan sebuah teks dari masa lampau, khususnya teks kitab suci dan teks klasik (yunan dan romawi). 
e. Pendekatan Wacana : Pengucapan-pengucapan yang kompleks dan beraturan, yang mengikuti norma atau standar yang telah pasti dan pada gilirannya mengorganisasikan kenyataan yang tak beraturan. 
V. PENUTUP 
Demikianlah makalah yang kami buat dan kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi tulisan dan buku referensi. Semoga bermanfaat apa hyang telah kami tuliskan disini. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran untuk kesempurnaan makalah selanjutnya. 

DAFTAR PUSTAKA 


Bakker, Anton dan Achmad Charis Zubair, metode penilitian filsafat, Yogyakarta:kanisius,1990
E. Sumaryono, Hermeneutik Sebuh Filsafat,(Yogyakarta:kanisius, 1993), hal.76
Hidayat, Komarudin, Memahami Bahasa Agama,Jakarta:Paramadina,1996
Nata, Abudin, Ilmu Pendidikan Islam dengan Pendekatan Multidsipliner,Ed. 1-2-Jakarta: Rajawali Pers.2010
Nata, Abudin, Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta:rajawali pers,2010
Ngainun, Naim, Pengantar Studi Islam, Yogyakarta:Teras.2009.
Prof. Dr. Mudjiarahardjo. M.Si. http://www.mudjiarahardjo.com/artikel/231-analisis-wacana-dalam-studi-keislaman-sebuah-pengantar-awal.html diakses pada tanggal 29 Maret 2013. Pukul 11.15.





[1] Nata Abudin, ilmu pendidikan islam,(Jakarta:rajawali pers,2010),hal.40
[2] Ibid.,hal.
[3]Abudin Nata, ilmu pendidikan islam dengan pendekatan multidsipliner,( Ed. 1-2-Jakarta: Rajawali Pers, 2010) hlm. 47.
[4] Naim ngainun, pengantar studi islam,(Yogyakarta:teras,2009),hal. 112
[5] E. Sumaryono, hermeneutik sebuh filsafat,(Yogyakarta:kanisius, 1993), hal.76
[6] Anton Bakker dan Achmad Charis Zubair, metode penilitian filsafat, (Yogyakarta:kanisius,1990),hal.43
[7] Komarudin Hidayat, Memahami Bahasa Agama, (Jakarta:paramadina,1996),hal.13
[8] Ibid.,hal.117
[9] Prof. Dr. Mudjiarahardjo. M.Si. http://www.mudjiarahardjo.com/artikel/231-analisis-wacana-dalam-studi-keislaman-sebuah-pengantar-awal.html diakses pada tanggal 29 Maret 2013. Pukul 11.15.