SELAMAT DATANG DI BLOG ABDUL HALIM SOLKAN

Semoga segala yang penulis atau blogger tampilkan dapat bermanfaat!

Tuesday, 2 July 2013

Sebuah Fakta Nilai-nilai Islam dan Peranannya Terhadap Peradaban Dunia


Judul Buku : Studi Islam Kontemporer
Penulis : M. Rikza Chamami, MSI
Cetakan Pertama : Desember 2012
Penerbit : Pustaka Rizki Putra
Bekerjasama Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang
Desain Cover : Abu Fadhel
Desain Isi : Miftakhul Arif
Tebal Buku : xii + 228 halaman
(X Bab)
Pereview Buku : Abdul Halim

Studi Islam sebenarnya merupakan kajian keilmuan yang telah lama. Ia ada bersama dengan adanya agama Islam. Studi Islam dalam pengertian ini adalah studi Islam secara praktek. Tetapi studi Islam sebagai Ilmu yang tersusun secara sistematis, ilmiyah, dan dibangun sebagai sebuah ilmu yang mandiri baru muncul dalam beberapa dekade belakangan.
Semangat ini tidak bersifat local tetapi global, membentang dari timur hingga kebarat. Kenyataan ini pada gilirannya mendorong minat ilmiyah terhadap agama. Pendekatan terhadap agama tidak lagi sebatas teologis, setudi perhubungan agama, atau sejarah agama-agama, tetapi telah meluas ke disiplin ilmu-ilmu humaniora lain. Dan tentunya mengkaji studi Islam memerlukan waktu yang lama.  Tidak hanya mengkaji studi Islam dalam waktu yang singkat yang hanya sebatas membuka lembaran-lembaran diawal sejarah masa lalu saja, namun mengkaji Islam memerlukan waktu yang lama dengan melalui berbagai pendekatan.
Agama pada kenyataannya menjadi wujud penghambaan kepada Tuhan dan menjadi penguat untuk hidup saling berdampingan. Agama juga menjadi alat untuk menganalisa realitas sosial yang dinamis. Kondisi inilah yang mendorong perlunya membuat konstruksi baru dalam memaknai studi Islam kontemporer. Dimana studi Islam dapat dilakukan dengan nalar teologis dengan perspektif yang beragam, baik normatif, historis, filosofis dan rasionalis.
M. Rikza Chamami, M S I mencoba memberikan wacana yang kiranya mampu menjadi alternatif wacana dan referensshi ketika kita hendak mengkaji persoalan Studi Islam dari masa-kemasa. Buku ini apik, membahas cukup medalam, baik persoalan flashback Islam dulu, serta juga Islam kekinian. Buku dengan judul “Studi Islam Kontemporer” yang ia terbitkan melalui Pustaka Rizki Putra dengan bekerjasama Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang, membahas dan mendeskripsikan warna studi Islam dalam empat pola : Studi Peradaban Islam, Studi Filsafat, Studi Ruh Sumber Islam dan Studi Kawasan. Sebagaimana yang dipaparkan penulis dalam pengantarnya.
Buku ini terdapat X Bab. Bab-bab tersebut mempunyai titik pokok pembahsan yang berbeda-beda sehingga tidak ada pembahasan yang cenderung tumpang tindih.
Bab Pertama membahas terkait. Pasang Surut Kebangkitan Kebudayaan dan Keilmuan : Potret Disintegrasi Abbasiyah.
            Dinasti Abbasiyah didirikan oleh Abdullah Al - Shaffah bin Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas. Yang berpusat di Baghdad memiliki karakter kebijakan yangdihasilkan dengan mendapat stempel Agama. Namun kejayaan ini mulai sirna ketika ada gerkan-gerakan yang mengarah pada Disintegrasi. Namun meskipun demikian, dinasti cukup menyumbang pemikiran dan keilmuan yang banyak.
Bab Kedua ini membahas terkait. Kajian Kritis Dialektika Fenomenologi dan Islam
            Karakteristik kajian fenomenologi dalam agama yaitu sebagai religiusitas (keberagamaan) yang bersifat universal, tidak terbatas, dan trans-historis. Dialektika kritis fenomenologi mengalami krisis ilmu sebagai permasalahan hubungan plantonis antara teori murni dengan praktis kehidupan, dan juga sebagai titik tolak permasalahan di Barat. Islam dari aspek fenomenologi menggunakan tata pikir logika lebih dari kausal linier dan bertujuan membangun ilmu idiografik.
Bab Ketiga membahas terkait. Filsafat Materialisme Karl Mark dan Friedrick Engels
Filsafat seringkali disebut sebagai ilmu yang menyelidiki dan menentukan tujuan akhir serta makna terdalam dari realita manusia. Sebagaimana Marx menganggap bahwa materi adalah hal yang utama, sementara pikiran-wilayah konsep dan ide yang begitu penting bagi para pemikir-sebenarnya hanya refleksi. Untuk filsafat Marx dan Engels yang sama-sama menggagas filsafat materialisme Dialektis (dengan metode dialektika) dan filsafat materialisme historis (memusatkan pemikiran pada sejarah) yang berkiblat pada Hegel secara kritis dengan melakukan rekonstruksi.
Bab Keempat membahas terkait. Skeptisisme Otentitas Hadits : Kritik Orientalis Ignaz Goldziher
            Keraguan dan kegamangan apar tokoh dalam menyikapi banyaknya hadits yang tersebar kepada umat Islam, makin membuat pandangan Umat Islam berfriksi-friksi. Goldziher adalah seorang orientalis ahli tafsir dan hadits yang berasal dari Hongaria berkebangsaan Jerman yang masih mengakui bahwa hadits sebagai sumber ajaran Islam. Dalam rangka membuat kritik hadits , Goldziher masih memilah antara hadits dan sunnah. Ia menyatakan bahwa hadits bermakna suatu disiplin ilmu teoritis dan sunnah adalah kopendium aturan-aturan praksis.
Bab Kelima ini membahas terkait. Telaah Sosio-Kultural : Manhaj Ahlul Madinah
            Hukum Islam dianggap sebagai hukum yang sakral oleh orang-orang Islam, yang mencakup tugas-tugas agama yang datang dari Allah dan diwajibkan kepada semua umat Islam dan semua aspek kehidupan mereka. Namun apada hal ini, mulai muncul Ulama’ yang mengkahi Hukum tersebut yang dihadapkan pada kontekstualisasi kehidupan di Masyarakat. Madzhab-madzhab yang dikenal sebagai ahlul hadits adalah madzhab asy-Syafi’i madzhab Hambali, dan madzhab Maliki. Imam Syafi’i memperkenalkan suatu pola penalaran dan metode pengolahan hukum yang utuh dan sistematis yang kemudian dikenal sebagai ushul Fiqh. Sedangkan ijtihad yang dilakukan ahlul Ra’yi sangat berperan dalam penggalian dan penetapan hukum, baik terhadap hukum yang tersirat maupun yang tersembunyi yang diperkirakan hukumnya tidak ada .
Bab Keenam membahas terkait. Postmodernisme : Realitas Filsafat Kontemporer
            Postmodernisme dalam bidang filsafat bisa diartikan sebagai segala bentuk refleksi kritis atas paradigm-paradigma modern dan atas metafisika pada umumnya. Diskursus postmodernisme yang memang tampil mencolok dalam arsitektur, sastra, seni lukis, dan filsafat kontemporer.
Bab Ketujuh menggambarkan . Potret Metode dan Corak Tafsir Al- Azhar
            Tafsir Al-Azhar adalah salah satu tafsir karya warga Indonesia yaitu Prof. Hamka yang dirujuk atau dianut dari Tafsir Al- Manar karya Muhammad Abdu dan Rasyid Ridla. Prof Hamka adalah seorang pemikir muslim progresif dan tokoh Muhammadiyah yang rela berkorban dalam memperjuangkan Islam hingga beliau dipenjara. Namun masuknya dia ke penjara bukan menjadi hambatan dalam berkarya, justru di dalam sel kala itu beliau menyelesaikan penulisan Tafsir Al-Azhar. Metode yang dipakai oleh Prof. Hamka dalam Tafsir Al-Azhar adalah metode analisis (tahlili) bergaya khas tertib mushaf. Kemudian untuk corak tafsir Al-Azhar menggunakan corak kombinasi al-Adabi al-Ijtima’i-Sufi (sosial kemasyarakatan).
Bab Kedelapan mendalami Diskursus Metode Hermeneutika Al – Qur’an
            Hermeneutika al-Qur’an merupakan istilah yang masih asing dalam wacana pemikiran Islam. Diskursus penafsiran al-Qur’an tradisional lebih banyak mengenal istilah al-tafsir, al-ta’wil, dan al-bayan. Istilah hermeneutika merupakan kosakata filsafat Barat yang digunakan oleh beberapa pemikir Muslim kontemporer dalam merumuskan metodologi baru penafsiran al-Qur’an dan diintroduksi secara definitif untuk menjelaskan metodologi penafsiran al-Qur’an yang lebih kontemporer dan sistematis.
Bab Kesembilan mulai menilik persolan Islam Indonesia yaitu Jawa dan Tradisi Islam Penafsiran Historiografi Jawa Mark R. Woodward
            Mark R. Woodward, seorang Profesor Islam dan Agama-agama Asia Tenggara di Arizona State University merupakan sosok yang sangat tegas menyatakan bahwa Islam Jawa adalah Islam, ia bukan Hindu atau Hindu-Budha, sebagaimana dituduhkan oleh Geertz dan sejarawan-antropolog lainnya. Selain itu, ia juga mengemukakan bahwa Islam Jawa adalah unik, bukan karena ia mempertahankan aspek-aspek budaya dan agama pra-Islam, tetapi karena konsep sufi mengenai kewalian, jalan mistik dan kesempurnaan manusia diterapkan dalam formulasi suatu kultus keratin (imperial cult). Ciri Islam Jawa menurut Mark yaitu kecepatan dan kedalamannya mempenetrasi masyarakat Hindu-Budha yang paling maju (sophisticated). Sebagai contoh fenomena tradisi Jawa : karya sastra yang berpatronase dengan keraton seperti Serat Saloka Jiwa karya Ranggawarsita dan Serat Centhini karya Pakubuwono V dengan nilai-nilai sufisme, ritual Sekatenan dikorelasikan dengan rekonstruksi sejarah Islamisasi Jawa, ajaran-ajaran Islam dalam pewayangan, dan penekanan bentuk keberagaman yang mengedepankan kesalehan praksis pada masyarakat Jawa.
Bab Kesepuluh mulai mencoba flashback terhadap persoalan. Reinterpretasi Profil Peradaban Islam
            Peradaban Islam dari Damaskus, Kordova, dan Tunisia, selama beberapa abad lamanya mampu mengguratkan tinta emas kebesaran peradaban dan kebudayaan umat manusia yang begitu gemilang. Pelajaran bagi kita adalah Islam dalam berbagai perwujudannya selalu menampilkan mentalitas masyarakat pada zamannya. Apabila masyarakat Islam tidak dalam posisi marjinal dan mempunyai rasa percaya diri yang tinggi, maka mereka akan mampu menampilkan wajah Islam yang terbuka, progresif kosmopolit, dan berkarakter liberal. Dan apabila posisi masyarakat muslim terpuruk dan tertekan, maka yang menonjol justru karakter masyarakat Islam yang paranoid, eksklusif, reaktif, tertutup, anti dialog dan cenderung menggunakan bahasa kekerasan karena rasa putus asa yang mendalam. Maka dari itu, kini saatnya untuk menentukan dan mengonstruksi peradaban Islam mendatang. Kondisi mentalitas masyarakat muslim akan memberi andil sangat besar untuk melahirkan wajah Islam masa mendatang.
Meskipun ditulis oleh kalangan akademisi namun buku ini sangat menarik dan tidak membosankan. Cara penyampaian yang sistematis dan ilmiah membuat buku ini mudah dicerna oleh kalangan pembaca dari kalangan universitas, praktisi sejarah maupun orang awam. Dalam buku ini juga dipaparkan mengenai peta politik, perkembangan keilmuan.
Buku yang merupakan terbitan hasil kerjasama antara Pustaka Rizki Putra dengan Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang ini dapat mengisi kekosongan kepustakaan kita mengenai kaitan Studi Islam dan Pemahaman mengenai Perdaban Islam berikut keilmuwannya. Pastikan Kita tidak terlewatkan untuk membacanya.


Thursday, 13 June 2013

Mengingat Kembali Sosiologi

Pengertian Sosiologi
Secara etimologi, sosiologi berasal dari bahasa latin yaitu socious yang berarti kawan atau teman dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Beberapa ahli juga mengungkapkan pendapat mereka tentang definisi sosiologi, diantaranya J. A.A. van doorn dan C.J Lammers berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur-struktur dan proses-proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. Sebagai ilmu pengetahuan yang murni(pure science) dan bukan merupakan ilmu pengetahuan terapan atau terpakai(applied science), sosiologi bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan sedalam-dalamnya tentang masyarakat, bukan untuk mempergunakan pengetahuan tersebut kepada masyarakat.
Seperti contoh, ahli sosiologi mengemukakan pendapat-pendapatnya yang berguna bagi petugas administrasi, pembuat Undang-undang, para diplomat, guru-guru, satpol PP dan sebagainya, akan tetapi mereka tidak menentukan apa yang harus dikerjakan petugas-petugas tersebut. atau dengan bahasa lain, sosiologi bertujuan untuk mendapatkan fakta-fakta dalam masyarakat serta mempergunakanya untuk menyelesaikan persoalan-persolan masyarakat.
Objek Sosiologi
Seperti halnya ilmu sosial lainya, Objek kajian sosiologi adalah masyarakat. Masyarakat merupakan sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama dan memiliki budaya (mempunyai struktur, tatanan, aturan dan hukum). Berikut merupakan kriteria sesuatu dikatakan sebagai masyarakat, yaitu manusia yang hidup bersama (minimal 2 orang), bercampur dalam waktu yang sama, sadar merupakan satu kesatuan dan merupakan suatu sistem hidup bersama. Nantinya di masyarakat pula akan ditemukan hal-hal yang menjadi masalah pokok dari pembicaraan tentang sosiologi, diantaranya pebahasan tentang gejala-gejala sosial, fakta sosial, tindakan sosial dan khayalan sosial. Misalnya dalam perumusan sebuah teori dari pemasalahan pendidikan.
Metode-metode dalam Sosiologi
            Cara kerja atau metode (method) sosiologi pada dasrnya mempunyai dua enis cara kerja, diantarnya metode kualitatif yang mengutamakan bahan yang sukar diukur dengan angka-angka atau hal-hal yang bersifat  eksak dan metode kuantitatif yang bersifat sebaliknya.
Metode kualitatif terdiri dari metode historis dan metode komparatif. Metote historis merupakan telaah atau analisis atas kejadian-kejadian silam guna merumuskan prinsip-prinsip umum, sedangkan metode komparatif memeningkan prbandingan antara bermacam-macam masyarakat beserta bidangnya untuk memperoleh perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan serta sebab-sebabnya.
            Ada pula metode lain yang dipakai dalam penelitian sosiologi, yaitu metode studi kasus(case study) yang bertujuan untuk mempelajari sedalam-dalamya salah satu gejala nyata dalam kehidupan masyarakat. Alat- alat yang dipakai dalam metode studi kasus ini adalah misalnya wawancara(interview), petanyaan-pertanyaan(questioner), daftar pertanyaan-pertnyaan(schedule) dan participant observer technique.
            Sedangkan dalam metode kuantitatif, kita mengenal teknik yang dinamakan Sociometry yang berusaha meneliti masyrakat secara kuantitatif. Sociometry merupakan himpunan konsep-konsep dan metode-metode yang bertujuan untuk menggambarkan dan meneliti hubungan-hubungan antar manusia dalam masyarakat secara kuantitatif.
            Metode lainya yaitu detode deduktif dan induktif. Metode deduktif yaitu memulai dengan mempelajari kaidah-kaidah yang bersifat umum untuk kemudian dipelajari dalam hal yang khusus, sedangkan metode induktif mempelajari suatu gejala yang khusus untuk mendapatkan kaidah-kaidah yang berlaku dalam lapangan yang lebih luas
Sejarah Teori Sosiologi
Perhatian Masyarakat sebelum Comte,
1.      Plato : Menelaah masyarakat secara sistematis dengan merumuskan teori organis tentang masyarakat yang mencakup bidang kehidupan sosial dan ekonomi.
2.      Aristoteles : melakukan analisis tentang lembaga-lembaga politik dalam masyarakat.
3.      Ibn Khaldun : mengemukakan beberapa prinsip pokok untuk menafsirkan kejadian sosial dan peristiwa dalam sejarah
4.      Zaman renaissance : muncul nama-nama Thomas more dan Campanella mengenai masyarakat ideal. N. Machiavelly : mengemukakan bagaimana cara mempertahankan kekuasaan
Sosiologi Auguste Comte
      Pada abad ke 19, August Comte(1798-1857) sudah memulai kajian-kajianya tentang sosiologi. Comte adalah yang memakai istilah “sosiologi” dan membedakan ruang lingkup dan isi sosiologi dengan ilmu sosial lainya, oleh karena itu Comte dikenal sebagai the father of sociology. Dia menyusun suatu sistematika dari filsafat sejarah dalam kerangka tahap-tahap pemikiran yang berbeda. Menurutnya, tahapan perkmbangan intelektual manusia dibagi menjadi tiga, yang pertama yaitu suatu tahap dimana manusia menafsirkan gejala-gejala di sekelilingnya secara teologis yaitu dengan kekuatan-kekuatan yang dikendalikan oleh dewa-dewa atau Tuhan yang maha kuasa atau di sebut sebagai tahap sosiologis atau fiktif.
      Tahap kedua merupakan tahap metafisik. Pada tahap ini manusia menganggap bahwa di dalam setiap gejala terdapat kekuatan-kekuatan atau inti tertentu yang akhirnya akan dapat diungkapkan. Selanjutnya adalah tahapan Rasional, diaman manusia sudah mulai berfikir berdasarkan akal dan mampu menemukan jawaban dari persoalan-persoalan yang ada(adabya kesadaran kritis). Menurut Comte, sosiologi merupakan studi positif tentang hukum-hukum dasar dari gejala sosial. Sosiologi yang merupakan ilmu pengetahuan paling kompleks dan dapat berkembang dengan pesat.
Mazhab – mazhab Sosiologi
1.      Mazhab Geografi dan lingkungan
Tokohnya adalah Edward Bucked dan Le play, inti dari pentingnya mazhab ini adalah baha ajaran-ajaran atau teori-teori menghubungkan factor keadaan alam dengan factor-faktor strukur serta organisasi sosial.
2.      Mazhab organis dan revolusioner
Tokohnya adalah Herbert Spencer dan Ferdinan Tonnies. Pengaruh spencer muncul melalui analoginya antara masyarakat dengan suatu organisme. Dia menjelaskan bahwa suatu organism akan mencapai suatu kesempurnaan jika memiliki beberapa criteria, yaitu kompleksitas, diferensiasi dan integrasi yang lebih sempurna pula.
3.      Mazhab Formal
Tokoh yang paling berpengaruh adalah George Simmel (1858-1918). Menurutnya, elemen-elemen masyarakat mencapai kesatuan melalui bentuk-bentuk yang mengatur hubungan-hubungan antar elemenya.
4.      Mazhab Psikologi
Gabriel Tarde dari prancis mengungkapkan gagasanya bahwa dimulai dengan suatu dugaan atau pandangan awal bahwa gejala sosial mempunyai sifat sosiologis yang terdiri dari interaksi antara jiwa-jiwa individu, dimana jia tersebut terdiri dari kepercayaan-kepercayaan dan keinginan-keinginan.
5.      Mazhab Ekonomi
Menurut Karl marx Selama masyrakat masih terbagi atas kelas-kelas, maka pada kelas yang berkuasalah akan terhimpun segala kekuatan dan kekayaan.
6.      Mazhab hukum

Salah satu tokohnya adalah E. Durkheim, yang menjelaskan baha hukum adalah kaidah-kaidah yang bersanksi yang berat ringanya tergantung pada sifat pelanggaran, anggapan-anggapan serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya suatu tindakan, yakni sanksi yang represif dan restitutif.

Suasana Ramadhan Bagi Industri Pertelevisian

Oleh : Abdul Halim

Televisi, berdasarkan UU Pers no.40, 1999 dan UU Penyiaran no.32, 2002 selain berkedudukan sebagai lembaga masyarakat, melekat pula fungsi sebagai lembaga ekonomi. Fungsi ekonomi inilah (terutama oleh Televisi Swasta) yang dimanfaatkan secara maksimal, terutama di era kebebasan saat ini. Sepintas tak ada yang salah dari apa yang rata-rata mereka lakukan. Dalih adalah memberikan pelayanan maksimal kepada pemirsa. Mereka selalu memanfatakan setiap momentum untuk (seolah) memberikan pelayanan maksimal kepada pemirsa, meski dibalik itu motif ekonomilah yang sebenarnya ada dibalik produksi siaran yang mereka sajikan.
Tak luput pula setiap tahun moment bulan puasa, ketika mayoritas masyarakat Indonesia yang beragama Islam sedang melaksanakan ibadah, mereka maksimalkan berbagai siaran atau sajian yang bernuansa ramadhan. Motto ; Berikan pemirsa apa yang mereka inginkan. Tampaknya para pengelola televisi swasta hanya mengambil sepotong apa yang dikatakan Reith (dalam Media Culture,1992) memberi publik apa yang pengelola pikir mereka butuhkan dengan mengabaikan bahwa sesungguhnya apa yang dimaksud Reith sebagai apa yang sesungguhnya mereka butuhkan, sehingga ada nuansa aspek kemanfaatan bagi pemirsa.
Kedatangan bulan Ramadhan selalu memberi kita pemandangan tersendiri di televisi. Sinetron-sinetron yang biasanya berlimpah kata-kata makian yang kasar, bahasa tubuh yang menyebalkan, dan dialog yang melambangkan kecintaan yang besar terhadap materi, kini berubah wujud. Para tokoh yang mendadak berkerudung dan berpeci, dan mulai menyadari bahwa hidup di dunia ini hanya sementara, alias mung mampir ngombe. Dalam beberapa adegan terlihat lucu karena mereka menggunakan kerudung atau peci bahkan ketika mereka hanya leyeh-leyeh di dalam rumah. Rasanya kita sendiri juga tidak begitu-begitu amat dalam “ merayakan “ bulan suci. Bukankah semangat tidak harus diwujudkan hanya dengan atribut fisik?
Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa praktikan sinetron itu semata-mata memanfaatkan momentum yang ada. Karena bulan puasa identik dengan kesabaran, maka jalan ceritapun dibelokkan sedemikian rupa sehingga pas dengan semangat ramadhan. Hingga terkadang dialognya bernafas islami dan diselingi lantunan ayat-ayat suci alqur’an. Hebat betul. Semuanya atas nama Ramadhan. Tampaknya kita sebagai penonton sekaligus umat beragama, harus merelakan bulan ini dieksploitasi habis-habisan oleh para praktikan sinetron. Suka tidak suka,mau tidak mau,pasti terjadi. Kita terpaksa bulan Ramadhan hanya sebagai salah satu momentum dalam kehidupan.
Masalahnya, bisakah kita memandang sinetron yang mendadak religius itu sebagai medium dakwah? Rasanya kok susah. Untuk bisa dikatakan sebagai medium dakwah, sebuah sinema elektronik harus memiliki konsistensi dalam menawarkan wacana-wacana keimanan, jika perlu dengan cara-cara yang kreatif dan berbeda. Tidak mendadak dan musiman seperti yang terjadi sekarang. Sebagai praktikan pertelevisian diharapkan mampu menjadikan sinetronnya benar-benar sebagai medium dakwah, dengan cara konsistensinya dan mempertontonkan suatu pembicaran yang syarat filsafat,dengan mengemasnya melalui tahap anlogi dengan hal-hal yang remeh dalam kehidupan sehari-hari.

Jelas bahwa menjadikan sinetron sebagai medium dakwah tidak bisa dilakukan dengan hanya menyelipkan potongan-potongan ayat kitab suci yang seringkali terasa numpang lewat tanpa konteks. Sebab jika hanya itu yang dilakukan, apa boleh buat, harus dikatakan bahwa sinetron para praktikan pertelevisian kita hanya memanfaatkan momentum belaka. Kita berharap para parktikan televisi sadar agar lebih mengedepankan aspek kemanfatan bagi pemirsa, dan tidak hanya menginginkan keuntungan semata. Kedepan, kita tentu berharap para pengelola televisi agar makin mampu memaksimalkan situasi simbiosis mutual bernuansa Ramdhan secara maksimal. Melalui cara itulah para pengelola akan berkontribusi konkret dan amanah, sekaligus memperoleh keuntungan financial untuk mengembangkan stasiun televisi yang dikelola.  

Nipotisme Kalangan Birokrat

 Oleh : Abdul Halim
Wacana ini akan menyoroti tentang fenomena pemilihan seorang pemimpin di sekitar kita baik itu Desa, Kecamatan, Kabupaten, hingga aparatur pemerintah yang sekelas DPR, MPR, dan menteri, serta civitas akademika dunia kampus terutama untuk BEM baik fakultas atau universitas dan khusus untuk ketua mahasiswa angkatan di suatu fakultas.
Kita semua sebagai bangsa indonesi mengharapkan seorang pemimpin yang benar –benar mampu untuk memberikan kontribusi yang baik bagi ikita semua bangsa Indonesia. Namun itu semua pupus ketika ada sebuah pemilihan kepemimpinan dalam birokrat yang dibumbui dengan apa yang namanya, nipotisme.
Nipotisme di negeri kita memang tidak dapat di pungkiri dan ditepis oleh siapapun, semua itu telah ada sejak dahulu. Manusia adalah satu-satunya makhluk yang diciptakan oleh tuhan dengan segala kelebihannya dibanding makhluk lain, baik dari fisik maupun spirit, jasmani maupun rohani. Manusi diberi petunjuk oleh tuhan berupa petunjuk indra, intuisi, akal, dan agama (Amin Syukur : 1991). Petunujuk-petunjuk itu harus kita manfatkan dan kita gunakan semaksimal mungkin demi kemaslahatan manusia. Sebagaimana dalam pemilihan seorang pemimpin bagi diri kita harus berdasarkan atas segala petunjuk yang telah diberikan Tuhan bagi kita. Dan kita lebih mengedepankan atas kebenaran  seperti kebenaran indrawi (sensible truth), kebenaran ilmu (intelligible truth), dan kebenaran filsafat (philosophical truth) kebenaran yang diperoleh dari pemikiran atas apa yang ada “ (being) “ dan “mungkin ada” secara mendasar (seakar-akarnya), obyektif dan universal.
Kaitannya yang telah saya jelaskan tadi, maka kita harus memilih seorang pemimpin berdasarkan kapabilitas dan intelektual mereka masing-masing. Bukan malah memilih mereka karena mungkin saudara, kolega, partner, dan sebagainya. Sebagaimana pemiliha kepala desa, jika yang mencalonkan diri adalah saudara atau mungkin teman kita, maka akan dipilih tanpa melihat sejauh mana kemampuan mereka untuk membawa desanya lebih maju. Karena dipilih atas dasar Nipotisme, maka dalam memimpin juga nipotisme yaitu lebih mengutamakan saudara-saudaranya untuk menjadi orang penting di desa tanpa melihat orang lain, padahal mereka lebih mampu dan berpotensi. Karena dirasa lebih menguntungkan dalam melaksanakan keotoriter kepemimpinannya. Dan sikap itu naik sampai pada jabatan Bupati.
Sebagaimana pemilihan jabatan menteri sebagai pembantu presiden, banyak dibumbui unsur nipotisme. Kita lihat saja usulan jabatan-jabatan menteri yang nantinya membantu tugas presiden sebagai kepala negara Republik Indonesia periode 2009-2014, banyak dari mereka adalah kolega-kolega dari SBY. Dan pada dasarnya mereka belum tentu memenuhi dan mumpuni untuk menduduki jabatan menteri itu.


Individu, Keluarga, dan Masyarakat

 Oleh : Abdul Halim

       I.      PENDAHULUAN
Kata “individu” berasal dari kata latin, yaitun individium, berarti “yang taka terbagi”. Jadi, merupakan suatu sebutan yang dapat dipakai nuntuk menyatakan suatu kesatuan yang paling kecil dan terbatas. Dalam ilmu sosial paham individu menyangkut tabiatnya dengan kehidupan jiwanya yang majemuk, memegang peranan dalam pergaulan hidup manusia. Individu bukan berarti manusia sebagai suatu keseluruhan yang tak dapat dibagi, melainkan sebagai suatu yang terbatas, yaitu sebagai manusia perseorangan. Dengan demikian sering digunakan sebutan “orang-seorang” dan “manusia perseorangan”. [1] Keluarga itu berarti ibu, bapak, dengan anak-anaknya atau seisi rumah, bisa juga disebut batih, yaitu orang seisi rumah yang menjadi tanggungan, dan dapat pula berarti kaum, yaitu sanak saudara serta kaum kerabat.[2] Definisi lain mengemukakan bahwa keluarga adalah suatu kelompok yang terdiri dari dua orang atau lebih yang direkat oleh ikatan darah, perkawinan, atau adopsi serta tinggal bersama.[3] Dalam bahasa Inggris masyarakat disebut society, asal katanya Socius yang berarti kawan. Adapun kata “masyarakat” berasal dari bahasa arab, yaitu syirk artinya bergaul.  Seorang tokoh sosiologi modern, Talcott Parson, merumuskan kriteria masyarakat. Masyarakat adalah suatu sistem sosial yang melebihi masa hidup individual normal dan merekrut anggota secara reproduksi biologis serta melakukan sosialisasi terhadapa generasi berikutnya.[4] Definisi lain menyebutkan bahwa masyarakat adalah kumpulan sekian banyak individu yang terikat oleh suatu adat, ritus, atau hukum dan hidup bersama. Al-Qur’an menyebut masyarakat dengan beberapa kata, yaitu qawm, ummah, syu’ub, dan qabail. Salah satu hukum kemasyarakatan yang cukup populer ialah Q.S. Ar-Ra’d [13]:11, yang berbunyi
žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr'Î/  
“ sesungguhnya Allah tidak akan mengubah apa yang terdapat pada (keadan) satu kaum (masyarakat) sehingga mereka mengubah apa yang terdapat dalam diri (sikap mental) mereka” [5]
Untuk arti yang lebih khusus masyarkat disebut pula kesatuan sosial, mempunyai ikatan kasih yang erat.
Kehidupan manusia sebagai makhluk sosial selalu dihadapkan kepada masalah sosial yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan. Masalah sosial ini timbul sebagai akibat dari hubungan dengan sesama manusia lainnya dan akibat tingkah lakunya. Masalah sosial ini tidaklah sama antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya karena adanya perbedaan dalam tingkat perkembangan kebudayaan, sifat kependudukannya, dan keadaan lingkungannya. [6] Meskipun Individu merupakan satuan kecil yang terbatas, ia juga punya pengaruh terhadap kehidupan keluarga dan masyarakat. Ketika kenakalan individu mulai muncul maka semua elemen yang berda dalam kehidupan bermasyarakat punya andil bagian baik mulai dari penyebab hingga pananggulangan dan penyelesaiannya.

    II.      RUMUSAN MASALAH
Dari pendahuluan diatas maka dapat dirumuskan permasalan yang perlu kita bahas agar tidak terjadi misunderstanding (kesalah pahaman) diantaranya:
1.            Bagaimanakah peranan individu dalam kehidupan keluarga dan masyarakat ?
2.            Apa penyebab yang mempengaruhi munculnya kenakalan Individu?
3.            Bagaimanakan peran serta keluarga dan masyarakat untuk meminimalisir kenakalan individu?
 III.      PEMBAHASAN
Masalah sosial yang muncul sekarang ini diakibatkan karena adanya penurunan kesadaran untuk menjalankan ajaran agama dengan sepenuhnya, hal ini disebabkan kurangnya perhatian dari keluarga dan masyarakat sebagai kontrol sosial sebagaimana adanya kenakalan individu yang marak sekarang ini. Meskipun individu dari artinya adalah sebuah kesatuan yang terbatas yaitu sebagai manusia perseorangan. Dalam bertingkah laku menurut pola pribadi suatu individu terdapat tiga macam kemungkinan:

1. Menyimpang dari norma kolektif
2. Kehilangan individualitas
3. Mempengaruhi masyarakat

Maka dalam hal ini kita perlu merevitalisasi kembali peran individu dalam kehidupan keluarga dan bermasyarakat. Adanya aspek organis-jasmaniah, psikis-rohaniah, dan sosial kebersamaan yang melekat pada individu, mengakibatkan bahwa kodratnya adalah untuk hidup bersaa manusia lain. Selain kepentingan individual, diperlukan suatu tata hidup yang mengamankan kepentingan komunal demi kesejahteraan brsama. Perangkat tatanan kehidupan bersama menurut pola tertentu kemudian berkembang menjadi apa yang disebut “pranata sosial” atau abstraksi yang lebih tinggi lagi, dinamakan “kelembagaan” atau “institusi”. Individu mempunyai “karakter”, maka satuan lingkungan sosial mempunyai “karasteristik” yang setiap kali berbeda fungsinya , struktur, peranan, dan proses-proses yang berlangsung di dalam dirinya. Posisi, peranan, dan tingkah lakunya diharapkan sesuai dengan tuntutan setiap satuan lingkungan sosial dalam situasi tertentu. Relasinya bersifat kompleks dan menjadi sasaran berbagai disiplin ilmu, tetapi diperoleh gambaran mengenai relasi individu dengan lingkungan sosialnya sebagai berikut : [7]
a.       Relasi Individu dengan Dirinya
Merupakan masalah khas psikologi. Karena individu dihadapkan dengan watak-wataknya yaitu Ego, Id, dan Superego. Id adalah wadah dalam jiwa seseorang, berisi dorongan primitif dengan sifat temporer yang selalu menghendaki agar segera dipenuhi atau dilaksanakan demi kepuasan. Ego bertugas melaksanakan dorongan-dorongan Id, tidak bertentangan dengan kenyataan dan tuntutan dari Superego. Ego dalam tugasnya  berprinsip pada kenyataan relative principle. Superego berisi kata hati atau conscience, berhubungan dengan lingkungan sosial, dan punya nilai-nilai moral sehingga merupakan kontrol terhadap dorongan yang datang dari Id.[8]
b.      Relasi Individu dengan Keluarga
Individu punya relasi mutlak dengan kelurga. Ia dilahirkan dari keluarga, tumbuh dan berkembang untuk kemudian membentuk sendiri keluarga batinnya. Peranan-peranan dari setiap anggota keluarga merupak resultan dari relasi biologis, psikologis, dan sosial.[9]
c.       Relasi Individu dengan Lembaga
Lembaga diartikan  sebagai norma-norma yang berintegrasi disekitar suatu fungsi masyarakat yang penting. Dalam hal ini, individu berperan sebagai pelaku yang berperan didalamnya melalui sosialisasi. [10]
d.      Relasi Individu dengan Komunitas
Dalam hal ini ia juga berada didalamnya karena ia juga hidup didalam komunitas itu sendiri.[11]
e.       Relasi Individu dengan Masyarakat
Masyarakat merupakan satuan lingkungan yang bersifat makro. Sifat makro diperoleh dari kenyataan, bahwa masyarakat pada hakikatnya terdiri dari sekian banyak komunitas yang berbeda, sekaligus mencakup berbagai macam keluarga, lembaga, dan individu-individu.[12]
f.       Relasi Individu dengan Nasion
Nasion dalah suatu jiwa, suatu asas spiritual, suatu solidaritas yang terbentuk oleh perasaan yang timbul sebagai akibat pengorbanan- pengorbanan yang telah dibuat dan yang dalam masa depan bersedia dibuat lagi.
Individu dalam perkembangannya sering muncul penyimpangan dan kenakalan, dalam pengamatan penyebab mereka bisa tumbuh seperti itu (Kenakalan) adalah sebagai berikut :
a.       Dasar-dasar agama yang kurang
b.      Pengaruh kawan sepermainan
c.       Pengaruh perkembangan iptek yang negatif
d.      Pendidikan
e.       Pemanfaatan waktu luang
f.       Uang saku
g.      Pengaturan seksual
h.      Dan lain-lain
Dari penyebab-penyebab diatas, untuk meminimalisir dan mengtasinya peran serta keluarga dan masyarakat sangat penting. Masyarkat dan keluarga hendaknya ikut bertanggung jawab penuh atas perkembangan para individunya, meskipun kenyatannya itu semua tergantung dari individu masing-masing. [13]

 IV.      KESIMPULAN DAN SOLUSI
Dari pembahsan diatas maka dapat disimpulkan bahwa Individu punya peran yang sangat penting dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Dalam perkembangannya, individu memunculkan sikap-sikap yang menyimpang dari norma-norma yang dianut dalam masyarakatnya. Ketika muncul kenakalan nindividu sebagaimana yang telah dijelaskan, maka semua elemen kehidupan sosial terutama keluarga dan masyarakat dapat mengoptimalkan perannya sebagai bentuk tanggung jawab atas perkembangan anggotanya (Individu).
Solusi yang tepat atas permasalahan ini adalah meningkatkan kjemabli pengawasan perkembangan individu dan perlu adanya pendidikan yang lebih atas ini. Karena, jika dalam perkembangannya selalu diawasi dalam hal ini tidak mempersempit geraknya yaitu memberikan pengarahan yang bersifat familiar yang nantinya mampu diterima oleh individu tersebut. Kemudian dari penyebab diatas, maka dari segala elemen kehidupan sosial perlu adanya peningkatan dibidang pendidikan, pendidikan agama, pendidikan seks, dan pendidikan lain yang diharapkan mampu meminimalisir kenbakalan-kenakalan tersebut.

    V.      PENUTUP
Demikianlah, yang dapat kami sampaikan semoga bermanfaat. Tak ada gading yang tak retak, mungkin dalam penyusunan masih banyak kesalahan, kami mohon ma’af, dan bagi pembaca yang hendak memberikan kritik yang konstruktif kami terima dengan lapang dada.

 VI.      DAFTAR PUSTAKA

Soelaeman, M. Munandar, Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Sosial, Bandung : Refika Aditama, 2001, Cet. 8.

Wahyu, Ramdani, ISD (Ilmu Sosial Dasar), Bandung: Pustaka Setia, 2007.

Wikimu “Penyebab Kenakalan Remaja dan Cara Mengatasinya” http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12915

Anonimous, Kamus Besar Bahasa Indonesia,Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka. 1995.

Arifin, Tajul, Pengantar Studi Sosiologi. Bandung: Arie and Brother. 1993.Cet. 3




[1] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Adimata,  2004), hlm. 113

[2] Anonimous, Kamus Besar Bahasa Indonesia. (Jakarta: Deoartemen Pendidikan dan Kebudayaan, Balai Pustaka. 1995) hlm.471

[3] Tajul Arifin, Pengantar Studi Sosiologi. 9Bandung: Arie and Brother. 1993).Cet. 3 hlm. 59.

[4] Dikutip dari Kamanto Sunarto, Pengantar Sosiologi (Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI. 1996) edidi kedua, hlm.56.
[5] Ramdani Wahyu, ISD Ilmu Sosial Dasar (Bandung: Pustaka Setia. 2007) Cet 1,hlm 74.

[6] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Adimata,  2004), hlm. 6
[7] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Aditama,  2004), hlm.124
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Ibid.,hal. 125
[11] Ibid.,hal.126
[12] M Munandar Soelaeman, Ilmu Sosial Dasar  Teori dan Konsep sosial. (Bandung:Refika Adimata,  2004), hlm. 127
[13] Wikimu “Penyebab Kenakalan Remaja dan Cara Mengatasinya” http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=12915