SELAMAT DATANG DI BLOG ABDUL HALIM SOLKAN

Semoga segala yang penulis atau blogger tampilkan dapat bermanfaat!

Sunday, 13 January 2019

Keponakan ku AHMAD ARJUNA KAFA

AHMAD ARJUNA KAFA BIN SUDARMOYO
AHMAD... Aḥmad (bahasa Arab: أحمد, transliterasiAhmad, Ahmed), adalah sebuah namadalam bahasa Arab yang berarti "sangat terpuji". Kata ini berasal dari akar kata trikonsonantal H-M-D ("puji"), arti implikasinya ialah "seseorang yang selalu berterima-kasih kepada Tuhan". Ahmad adalah nama lain dari Muhammad, salah seorang nabi dalam agama Islam.
ARJUNA... Arjuna (Dewanagari: अर्जुन; IAST: Arjuna)adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai anggota Pandawa yang berparas menawan dan berhati lemah lembut. Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti "bersinar terang", "putih" , "bersih". Dilihat dari maknanya, kata Arjunabisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikiran". Arjuna (अर्जुन Arjuna): yang tak ternoda dan bersinar keperakan.
KAFA.. Nama Kafa adalah nama bagus dan indah untuk anak bayi laki-laki islam. Selain tergolong dalam nama bayi islami dari asal bahasa Arab, unik nya kata ini ada pada arti dan maksud nama Kafa yang memiliki makna Hujan yang lembut. Kita pun dapat maknai arti: Hujan yang lembut sebagai doa agar calon bayi laki laki kita Diharapkan menjadi bayi laki laki yang pandai, di berkahi, dan ramah. Atau makna lain Tercukupi Rizkinya.

Thursday, 28 January 2016

Pesantren dan Cita-Cita Bangsa yang Jaya

Oleh : Abdul Halim[2]


Sebelum hadirnya agama-agama besar seperti Budha, Hindu, Islam atau sejak Zaman Kapitayan, Pesantren sudah hadir dan menjadi bagian dari khazanah peradaban Nusantara. Misi dan risalah Pesantren untuk memberikan muatan nilai spiritual dan moral pada setiap perilaku masyarakat sehari-hari, baik dalam kegiatan sosial, ekonomi maupun kenegaraan tidak pernah berubah, meski terjadi pertemuan dengan agama-agama besar tersebut yang mengharuskan pesantren alami bperubahan bentuk dan isi sesuai karakter tiap agama.

Pada masa Walisongo, Pesantren yang semula bernuansa Hindu-Budha mulai mendapatkan nuansa Islam. Hal ini sejalan dengan mulai tersebarnya agama baru ini. Diwilayah pesantren lah agama diajarkan dengan secara mendalam serta luas bagi masyarakat. Berbagai kitab diajarkan di pesantren saat ini, baik kurikulum, kitab dan metodenya semua bersala dari generasi para wali dan kiai sesudahnya. Hal itulah yang turu menyumbang atas dinamika dan perkembangan Islam Nusantara di Bumi Pertiwi ini,.
Namun tahun 1900 para kolonial datang dan memperkenalkan pendidikan sekolah yang hanya mengajarkan ilmu-ilmu keduniaan dengan dasar rasional semata, mulailah terjadi dualism pendidikan Nusantara. Pendidikan yang semula terpadu mulai dipisah anatara ilmu agam dan ilmu pengetahuan umum. Hal itu terjadi karena pendidikan Barat hanya mengenal ilmu umum dan tidak kenal ilmu agama, sementara pesantren saat itu mengintegrasikan keduanya.

Wednesday, 27 January 2016

Resume Materi Wajib Pelatihan Kader Lanjut PC PMII Kota Semarang

Oleh : Abdul Halim[2]

Berdasarkan pengamatan penulis merujuk berbagai sumber, materi wajib dalam Pelatihan Kader Lanjut PMII adalah sebagi berikut :
1.    Ke-Islaman (Ideologi)
a.       Aswaja Scientific
b.      PMII, NU dan Peta Pemikiran Gerakan Islam
2.      Keindonesiaan
a.       Sejarah Masyarakat Indonesia
b.      Geo Politik, Geo Ekonomi dan Geo Strategi
3.      Ke-PMII-an
a.       Membedah PMII Perspektif Ideologi
b.      Membedah PMII Perspektif Kepemimpinan dan Organisasi
c.       Membedah PMII Perspektir Kaderisasi
d.      Membedah PMII Perspektif Gender
4.      Leadership
a.       Mentality And Character Building
b.      Teknik Membangun Jaringan
c.       Strategi Perang
5.      Pengetahuan
a.       Strategi Membangun Kemandirian Ekonomi Organisasi
b.      Community Organizing
Berikut sedikit penulis uraikan gambaran mengenai materi-materi PKL yang menjadi asupan wajib peserta.

Tuesday, 18 August 2015

Desa dan Pelestarian Lingkungan

Oleh: Abdul Halim Solkan


Babak baru dan geliat positif Pemerintah Jawa Tengah guna wujudkan good governance dengan berlandaskan pembangunan berkelanjutan sedang diupayakan dan diwujudkan. Pembangunan berkelanjutan (sustainable) adalah pembangunan yang didasarkan atas kesejahteraan masyarakat serta keadilan dalam jangka waktu pendek, menengah dan panjang dengan keseimbangan pertumbuhan ekonomi, dinamika sosial dan pelestarian lingkungan hidup. Sebagaimana yang telah diberitakan sebelumnya bahwasanya  Gubernur dan Pemerintah Provinsi ini, melalui Balai Lingkungan Hidup sedang menggelorakan sebuah kebijakan yang begitu apik dan patut kita kawal dan dukung bersama, yaitu Memberikan anjuran agar Pemerintah Desa untuk menyusun Regulasi lewat Peraturan Desa (Perdes) tentang Pelestarian Lingkungan. Langkah Balai Lingkungan Hidup (BLH) mengusulkan kepada Gubernur terkait hal ini (baca: Perdes) mendapat respon positif dan Gayungpun bersambut. Gubernur menindaklanjuti dengan menerbitkan Surat Edaran Nomor 600/002146 tentang Penyusunan peraturan Desa terkait pelestarian lingkungan hidup kepada bupati/wali kota, dengan harapan hal ini dapat memfasilitasi penyusunan peraturan desa di wilayah masing-masing (SM,8/6/2015).

Pemuda dan Cita-cita Kemandirian

Oleh: Abdul Halim Solkan

Dalam Buku “Ilmu Sosial Dasar (Teori dan Konsep Ilmu Sosial)” M Munandar Soelaeman menyatakan bahwa ‘pemuda’ ata ‘generasi muda’ merupakan konsep-konsep yang selalu dikaitkan dengan masalah nilai. Sebagaimana istilah ‘pemuda harapan bangsa’, ‘pemuda pemilik masa depan’, dan sebagainya yang semuanya menjadi beban moral sendiri bagi pemuda. Kedudukan pemuda dalam masyarakat adalah sebagai makhluk moral, makhluk sosial. Hal itu menunjukkan jika pemuda haruslah beretika, bersusila, dijadikan sebagai barometer moral kehidupan bangsa dan pengoreksi.
Pernyataan-pernyatan tersebut diatas seolah menjadi hal yang utopis jika disematkan terhadap pemuda, karena hal itu kontradiktif dengan senyatanya. Pemuda saat ini dihadapkan dengan persoalan seperti ungkapan frustasi, masa depan suram, kecemasan, kenalan, serta masalah lainnya. Butuh sinergi semua pihak agar apa yang menjadi harapan bangsa bagi pemuda dapat dimanifestasikan untuk capai cita-cita kemandirian. Pemerintah, Pemodal (pengusaha), serta Organisasi kepemudaan harus menggerakkan segenap stakeholder agar hal tersebut (red: cita-cita kemandirian oleh pemuda) tidak sebatas pepesan kosong.